SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memperkuat penanganan banjir perkotaan melalui pembenahan drainase sekaligus peningkatan badan Jalan Tjilik Riwut Sampit.

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Mentana Dhinar Tistama, mengatakan pembangunan drainase direncanakan berlanjut hingga kawasan simpang Jalan Pramuka.

“Jadi, drainase itu akan kita lanjutkan sampai simpang Pramuka,” kata Mentana, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, penanganan tidak hanya difokuskan pada saluran air, tetapi juga kondisi badan jalan agar sistem pengaliran dapat bekerja lebih efektif.

Namun, kelanjutan pekerjaan tetap akan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Pemkab juga masih harus mempertimbangkan kebutuhan pembenahan drainase di ruas Jalan DI Panjaitan.

Saat ini, pekerjaan di Jalan Tjilik Riwut masih berlangsung pada ruas sepanjang sekitar 675 meter.

Proyek yang dimulai sejak 10 Juli 2026 itu memiliki masa kontrak hingga 7 Desember 2026 dengan nilai anggaran sekitar Rp7,5 miliar.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Bagus Anugrah Nusantara, mengatakan terdapat dua pekerjaan utama, yakni pembangunan drainase dan peningkatan badan jalan.

Menurutnya, pembenahan drainase saja belum cukup jika elevasi jalan tidak ikut disesuaikan.

“Secara teknis, drainase kalau tidak diimbangi dengan peningkatan jalan akan kalah. Nanti malah tetap banjir. Jadi setelah kita telaah, Jalan Tjilik Riwut memang memerlukan leveling ulang,” jelas Bagus.

Saluran drainase pada pekerjaan tersebut menggunakan sistem precast, yakni saluran dicetak terlebih dahulu sebelum dipasang pada titik yang telah ditentukan.

Setelah itu, peningkatan badan jalan dilakukan menggunakan metode Cement Treated Recycling Base (CTRB).

Pekerjaan recycling aspal pada ruas sekitar 675 meter dilakukan bertahap sebelum dilanjutkan dengan pemadatan dan pengaspalan.

Penanganan tahun ini difokuskan pada satu sisi ruas Jalan Tjilik Riwut dan menjadi tahap awal yang nantinya diharapkan dapat diteruskan ke arah simpang empat Jalan Tjilik Riwut, Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda.

Kawasan tersebut dipilih karena memiliki persoalan aliran air yang membutuhkan sistem drainase lebih baik.

Air direncanakan dialirkan melalui dua jalur, salah satunya menuju saluran di kawasan Bumi Raya dan jalur lainnya ke arah kawasan sungai di sekitar bengkel.

“Jadi sebenarnya fungsi utama drainase. Namun, setelah kita kaji secara teknis, kalau drainasenya saja kita buat, nanti jalannya tetap akan banjir,” ujarnya.

Pada tahap selanjutnya, saluran juga direncanakan menggunakan konstruksi penutup dengan elevasi rendah.

Konsep tersebut diharapkan membuat drainase tetap berfungsi tanpa mengganggu akses kendaraan maupun aktivitas masyarakat di sepanjang Jalan Tjilik Riwut. (*/j)