BORNEONEWS, Sampit - Masyarakat Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berharap rencana pembangunan Jalan Mentaya Seberang 1 tidak berhenti di meja rapat. Pembangunan jalan titian kayu yang sudah usang tersebut harus diwujudkan untuk kemajuan ekonomi masyarakat sekitar.
"Kami berharap Jalan Mentaya Seberang dapat dikaji dan diusulkan melalui skema pendanaan pemerintah pusat yang paling memungkinkan dan sesuai ketentuan, termasuk IJD apabila memenuhi kriteria dan dapat masuk dalam program," kata warga Kelurahan Mentaya Seberang Sardi Fakhri Rakhman, Kamis, 1 Oktober 2026.
Sardi yang juga aktif sebagai Ketua Karang Taruna Kelurahan Mentaya Seberang mengatakan, pembangunan jalan bukan sekadar persoalan memperbaiki infrastruktur. Bagi masyarakat setempat, akses yang lebih baik berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pengembangan potensi wisata.
Ia menggambarkan Mentaya Seberang sebagai kawasan yang memiliki akar sejarah kuat. Ia mengibarkan Seranau sebagai benua usang yang menjadi bagian dari perkembangan kehidupan masyarakat di tepian Sungai Mentaya.
Benua usang baginya bukan hanya nama yang merujuk pada masa lalu. Kawasan tersebut menjadi bagian dari sejarah Sampit, ketika sungai menjadi jalur transportasi utama dan tepian Sungai Mentaya menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Karena itu, masyarakat berharap kawasan tersebut tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Sardi mengapresiasi respon Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim dan Kementerian Pekerjaan Umum atas usulan masyarakat terkait kondisi konektivitas di Mentaya Seberang
Menurutnya, pembahasan peningkatan jalan akan memiliki dampak lebih luas apabila diwujudkan. Jalan yang lebih baik dapat memperlancar distribusi barang, mendukung aktivitas UMKM, memudahkan masyarakat mengakses layanan publik serta membuka peluang ekonomi baru.
Bagi masyarakat, peningkatan akses jalan berpotensi memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha. Distribusi barang dapat menjadi lebih mudah, sementara konsumen juga memiliki akses yang lebih baik menuju kawasan permukiman dan sentra usaha masyarakat.
Pelaku UMKM, pedagang, usaha kuliner, jasa, kerajinan hingga usaha rumah tangga diharapkan dapat memperoleh pasar yang lebih luas.
Efisiensi waktu dan biaya perjalanan juga dinilai dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Sardi menilai dampak pembangunan tersebut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang menggunakan jalan, tetapi dapat mendorong pertumbuhan kawasan secara keseluruhan.
Selain ekonomi, Mentaya Seberang memiliki potensi wisata yang bertumpu pada Sungai Mentaya. Aktivitas susur sungai yang dikelola masyarakat lokal menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan.
Menurut Sardi, akses darat yang lebih baik dapat mendukung kegiatan wisata tersebut. Wisatawan akan lebih mudah menuju lokasi keberangkatan, sedangkan pelaku usaha dapat lebih mudah membawa kebutuhan operasional.
Peluang tersebut juga dapat berkembang ke sektor pendukung seperti kuliner tepian sungai, kerajinan, UMKM dan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, pembangunan Jalan Mentaya Seberang 1 dinilai dapat berjalan beriringan dengan pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Kawasan tersebut juga berpeluang dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata yang mengangkat nilai sejarah dan kehidupan masyarakat di tepian Sungai Mentaya.
Ia mengatakan, pembangunan jalan tidak hanya diukur dari panjang ruas yang berhasil ditingkatkan, tetapi dari manfaat yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Akses menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pelayanan publik dan jalur evakuasi diharapkan menjadi lebih mudah. Mobilitas pelaku UMKM, pekerja wisata maupun masyarakat secara umum juga dapat semakin lancar.
Ia memahami bahwa pembangunan infrastruktur pemerintah harus melalui proses perencanaan, kajian teknis, penganggaran dan persyaratan administratif.
Karena itu, dirinya tidak bermaksud mengabaikan tahapan yang menjadi kewenangan pemerintah. Sebaliknya, warga berharap pemerintah daerah mengupayakan pembangunan Jalan Mentaya Seberang 1 tersebut hingga memperoleh anggaran.
Salah satu yang diharapkan dapat dikaji adalah pendanaan pemerintah pusat melalui inpres jalan daerah (IJD), sepanjang ruas tersebut memenuhi persyaratan dan dapat masuk dalam program.
Masyarakat berharap Pemkab Kotim dapat menjadi pihak yang mengusulkan sekaligus mengawal kebutuhan pembangunan Jalan Mentaya Seberang 1. Sardi juga menyatakan siap memberikan data maupun informasi lapangan yang dibutuhkan dalam proses perencanaan.
Bagi masyarakat Seranau, realisasi pembangunan jalan tersebut diharapkan menjadi langkah untuk mengubah wajah Mentaya Seberang dari kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses menjadi wilayah yang lebih terbuka bagi aktivitas ekonomi dan wisata.
"Benua usang tidak ingin menjadi usang. Benua usang ingin tumbuh. Benua usang ingin maju. Dan Mentaya Seberang ingin menjadi bagian dari masa depan Sampit dan Kotawaringin Timur," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









