JAKARTA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau peluang hujan dan pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah untuk mendukung strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengatakan Kalimantan Tengah bersama Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur diprakirakan mulai menerima curah hujan paling cepat pada Dasarian II Oktober 2026.

Periode tersebut berlangsung sekitar 11 hingga 20 Oktober dan menjadi salah satu perkembangan yang terus dipantau di tengah kondisi Karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

“Untuk wilayah Provinsi Riau, seperti tadi Pak Berton juga sampaikan itu sudah ada hujan, kemudian untuk wilayah Jambi kami memprediksi awal musim hujannya paling cepat itu nanti di Oktober Dasarian II,” ujar Marjuki dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurut Marjuki, kondisi serupa juga dipantau di wilayah Kalimantan. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur diprakirakan mulai menerima curah hujan paling cepat pada Dasarian II Oktober.

Informasi prakiraan iklim tersebut digunakan untuk mendukung operasi pemadaman darat maupun intervensi cuaca melalui Teknologi Modifikasi Cuaca.

BMKG juga terus memantau perkembangan atmosfer dan ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Marjuki menjelaskan, keberadaan awan menjadi faktor penting karena efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer.

“Apabila ada potensi-potensi pertumbuhan awan, saat diintervensi, terjadi curah hujan. Namun, secara umum wilayah bagian selatan ekuator itu masih minim potensi pertumbuhan awannya,” kata Marjuki.

Kondisi tersebut membuat peluang hujan alami maupun pertumbuhan awan terus menjadi perhatian dalam menentukan strategi penanganan Karhutla.

Selain Kalteng, BMKG juga memantau perkembangan musim hujan di sejumlah wilayah lain yang rawan Karhutla.

Riau bagian utara tercatat telah mengalami curah hujan sejak Dasarian II September.

Sementara Jambi dan Sumatera Selatan diperkirakan mulai memasuki awal musim hujan paling cepat pada Dasarian II Oktober.

Kalimantan Timur juga diprediksi mulai menerima hujan pada periode yang sama, meski musim hujan secara umum baru diperkirakan merata pada Dasarian II November.

Adapun Kalimantan Selatan diprakirakan mulai memasuki musim hujan paling cepat pada Dasarian I November dan baru merata pada Desember.

Secara nasional, BMKG mencatat terdapat 63 Zona Musim yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober.

Marjuki mengatakan perkembangan prakiraan tersebut terus diselaraskan dengan kebutuhan satuan tugas penanggulangan Karhutla.

Pemantauan awan dilakukan secara berkelanjutan agar apabila kondisi atmosfer mendukung, intervensi melalui modifikasi cuaca dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Bagi Kalimantan Tengah, peluang hujan pada pertengahan Oktober menjadi salah satu faktor penting yang diharapkan dapat membantu penanganan Karhutla sekaligus memperbaiki kondisi udara.

ANTARA