BORNEONEWS, Bekasi – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meminta peserta Talent and Innovation Hub (TIH) tidak hanya mengandalkan ide, tetapi juga mampu membuktikan keunggulan produk melalui eksperimen dan pengukuran yang jelas.
Arahan tersebut disampaikan saat meninjau sesi pitching peserta TIH di Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Bekasi, Jawa Barat. Peserta dari BPKK Bekasi dan BBPKK Bandung Barat mempresentasikan proyek yang dikembangkan selama dua bulan terakhir.
Yassierli mengatakan periode awal tersebut menjadi fase penting untuk menguji apakah sebuah gagasan benar-benar memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi bisnis.
“Sekarang sudah berjalan dua bulan, ini terasa sulit. Dalam dua bulan ini, adik-adik sudah belajar banyak. Salah satunya bagaimana mencari sebuah produk yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai bisnis. Itu tidak mudah,” kata Yassierli dalam rilis diterima pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, peserta perlu lebih dulu memetakan kekuatan internal kelompok sebelum melanjutkan pengembangan produk.
Ia menilai posisi sebuah tim akan lemah jika tidak memiliki kompetensi atau kontribusi yang benar-benar dibutuhkan.
“Coba lakukan asesmen internal di kelompok kalian. Kekuatan kelompok kalian ada di mana? Karena kalau kita tidak punya sesuatu yang bisa kita kontribusikan, posisi kita akan lemah sekali,” ujarnya.
Jika ide berasal dari kelompok sendiri, peserta diminta memastikan produk tersebut memiliki keunggulan yang bisa dibandingkan secara objektif dengan produk kompetitor.
Pengujian, kata Yassierli, dapat dilakukan melalui indikator yang terukur agar kelebihan produk tidak hanya menjadi klaim.
Ia juga mengingatkan bahwa inovasi tidak harus selalu rumit.
Gagasan dapat berangkat dari persoalan sehari-hari yang dekat dengan peserta, kemudian dikembangkan sesuai minat, kompetensi, dan kebutuhan pasar.
“Pastikan kalian memiliki sesuatu yang unik. Ada sesuatu yang kalian kuasai sendiri, ada anggota kelompok yang menguasai bidang tersebut, dan ada anggota kelompok yang memiliki keahlian yang memang dibutuhkan untuk mengembangkan produk itu,” katanya.
Dari BPKK Bekasi, terdapat enam proyek yang dikembangkan peserta, yakni Noisora berupa panel peredam suara berbahan kain majun, Biopelet dari limbah daun gambir untuk bahan bakar pendamping, Harbite Gummy berupa jamu dalam bentuk permen gummy, Blace–Botanica Solace berupa home gardening kit dengan pupuk berbahan ampas kopi, Cocovalue yang memanfaatkan limbah serabut kelapa, serta Andallo berupa platform digital pencarian dan pemesanan jasa lokal.
Sementara peserta dari BBPKK Bandung Barat mengembangkan enam proyek, yakni Portofolio Ku, MindPlay, Kave, Palapa, ChocoNusa, dan Wait2Waste.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap peserta tidak hanya mampu menghasilkan ide inovatif, tetapi juga dapat mengembangkan produk yang memiliki nilai tambah, keunggulan kompetitif, dan peluang bisnis yang terukur.









