BORNEONEWS, Sampit – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur masih sulit terurai karena dipengaruhi dinamika atmosfer yang salah satunya berkaitan dengan Siklus Walker.
Kepala BMKG Kotim melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan, Mulyono Leo Nardo, mengatakan kondisi atmosfer saat ini cenderung mendorong udara bergerak ke bawah sehingga asap bertahan lebih lama di dekat permukaan.
“Ketika terjadi updraft atau udara naik, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi akan naik ke atas sehingga terbentuk awan. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi daya dorong atmosfer ke bawah. Akibatnya, asap seperti terkurung di permukaan,” kata Mulyono di Sampit, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses pengangkatan uap air ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi tidak berlangsung optimal.
Siklus Walker sendiri merupakan pola sirkulasi atmosfer di wilayah tropis yang dapat berubah mengikuti dinamika suhu permukaan laut di kawasan Pasifik.
Dalam kondisi tertentu, perubahan pola tersebut membuat wilayah Indonesia lebih banyak mengalami gerakan udara turun atau downdraft.
Gerakan udara turun itu kemudian menekan pertumbuhan awan dan mengurangi peluang terbentuknya hujan.
“Sekarang kondensasi tidak bisa naik karena uap airnya tidak cukup dan labilitas atmosfer juga rendah. Gerakan udara yang lebih dominan dari atas ke bawah justru menekan pembentukan awan,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat asap hasil Karhutla lebih mudah bertahan di permukaan.
Kondisi semakin sulit apabila kecepatan angin relatif rendah karena asap tidak segera terdorong keluar dari wilayah terdampak.
“Kalau anginnya tidak terlalu kencang, asap tidak bisa terbawa ke mana-mana. Akhirnya berkumpul dan terkurung di wilayah tersebut. Kalau ada angin yang lebih kencang, biasanya asap bisa terbawa,” katanya.
BMKG juga mencatat kepekatan kabut asap di Kotim memiliki pola tertentu berdasarkan pengamatan historis.
Asap cenderung lebih pekat pada pagi hingga subuh, kemudian mulai membaik sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah hari.
Namun, setelah sekitar pukul 12.00 WIB, kabut asap kembali berpotensi menebal hingga sore.
“Kalau melihat historis kami, kecenderungannya kabut asap lebih pekat pada pagi atau subuh. Sekitar pukul 08.00 WIB mulai membaik hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu mulai pekat lagi sampai sore,” jelas Mulyono.
Meski demikian, pola tersebut tidak selalu terjadi setiap hari.
Dalam kondisi tertentu, tingkat kepekatan asap dapat bertahan relatif sama sejak pagi hingga sore sehingga jarak pandang tetap terbatas dalam waktu lebih lama.
“Ada juga kondisi seperti beberapa hari yang lalu, dari pagi sampai sore tingkat kepekatannya sama. Kondisi seperti itu yang sebenarnya perlu kita waspadai,” katanya.
BMKG mengingatkan kondisi atmosfer, arah dan kecepatan angin, serta sumber asap menjadi faktor yang terus berubah sehingga perkembangan kabut asap perlu dipantau dari waktu ke waktu.









