SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Warga di sejumlah desa wilayah utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih di tengah kemarau panjang dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi.

‎Tokoh masyarakat Kecamatan Tualan Hulu, Admadisastra, mengatakan sedikitnya 11 desa di wilayah tersebut mulai merasakan dampak sulitnya ketersediaan air bersih. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah desa lain di wilayah utara Kotim.

‎“Di wilayah Tualan Hulu ada 11 desa yang mulai membutuhkan perhatian terkait ketersediaan air bersih. Selain itu, ada juga laporan dari wilayah utara lainnya mengenai kebutuhan air bersih dan obat-obatan,” ujar Admadisastra, Jumat, 2 Oktober 2026.

‎Adapun desa-desa di Kecamatan Tualan Hulu yang dilaporkan mengalami kebutuhan air bersih tersebut antara lain Desa Tanjung Jorong, Damar Makmur, Luwuk Sampun, Merah, Tumbang Mujam, Mekar Sari, Wonosari, Bukit Makmur, Sebungsu, Jatiwaringin dan Cempaka Putih.

‎Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian karena air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Terlebih, kemarau panjang yang disertai karhutla turut memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat.

‎“Air adalah kebutuhan dasar. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih di tengah kondisi seperti sekarang. Dampak kemarau panjang dan karhutla ini bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan masyarakat,” katanya.

‎Selain air bersih, ia menyebut masyarakat di sejumlah wilayah juga membutuhkan dukungan obat-obatan, terutama untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.

‎Lanjutnya, tidak hanya di Tualan Hulu, sulitnya karena bersih juga dirasakan warga di Trans KPA Kecamatan Antang Kalang serta sejumlah wilayah kecamatan lainnya.

‎Ia berharap pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama mendorong penanganan kebutuhan dasar warga yang terdampak kondisi tersebut.

‎Di sisi lain, ia juga meminta perusahaan perkebunan yang beroperasi di sekitar permukiman masyarakat turut menunjukkan kepedulian dengan membantu penyediaan air bersih maupun kebutuhan kesehatan warga.

‎“Perusahaan yang berada di sekitar masyarakat jangan diam. Ini saatnya menunjukkan kepedulian kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Bantuan air bersih dan kebutuhan kesehatan sangat dibutuhkan,” tegas Admadi yang juga pernah menjadi Camat Tualan Hulu.

‎Sejumlah perusahaan yang diharapkan dapat ikut berkontribusi antara lain PT BUM, PT ADS, PT Hutanindo Agro Lestari, PT SSP, PT SIS, PT TASK, PT Hutan Sawit Lestari dan PT KMB.

‎Menurut Admadisastra, dukungan juga dapat datang dari kelompok lembaga masyarakat maupun koperasi yang berada di Kecamatan Tualan Hulu dan wilayah utara Kotim secara umum.

‎“Kita berharap ada bentuk kepedulian bersama. Pemerintah, perusahaan, koperasi dan elemen masyarakat bisa bergerak sesuai kemampuan untuk membantu warga. Ini kebutuhan dasar masyarakat dan bentuk kepedulian serta keadilan bagi warga yang sedang menghadapi bencana,” ujarnya.

‎Ia berharap penyaluran bantuan dapat dilakukan secara terkoordinasi sehingga benar-benar menjangkau desa-desa yang mengalami kesulitan air bersih dan terdampak asap karhutla.

‎“Jangan menunggu kondisi semakin parah. Kalau masyarakat sudah mulai melaporkan kesulitan air, artinya perlu ada langkah cepat untuk mengantisipasinya,” pungkasnya. (DEVI/y)