TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sekitar lima hektare lahan gambut di areal eks kebun sawit PT Multi Jaya Agro Palma (MJAP), Desa Kupang Bersih, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kebakaran yang dilaporkan masyarakat tersebut langsung ditindaklanjuti Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) KPHP Barito Hilir bersama personel gabungan. Operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 09.10 WIB dan baru berakhir pukul 15.58 WIB setelah seluruh areal yang terbakar berhasil dikendalikan.

Kepala KPHP Barito Hilir Zainal Abidin mengatakan, proses pemadaman berlangsung cukup lama karena karakter lahan yang terbakar merupakan gambut. Api tidak hanya membakar semak belukar dan tegakan sawit di permukaan tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah.

“Luas areal yang terbakar diperkirakan sekitar 5 hektare. Tipe kebakarannya terjadi di bagian atas dan bawah sehingga tim melakukan penyekatan dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar padam,” ujar Zainal.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat personel tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman pada titik api yang terlihat. Setelah kobaran di permukaan berhasil dikendalikan, tim harus melakukan pendinginan dan pemeriksaan ulang untuk memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di bawah permukaan gambut.

“Sekitar 5 hektare areal yang terbakar berhasil dipadamkan. Setelah pemadaman, tim tetap melakukan pendinginan karena kondisi lahan gambut memungkinkan masih terdapat bara di bawah permukaan,” katanya.

Upaya pemadaman melibatkan Brigdalkarhutla KPHP Barito Hilir, personel Polsek Pematang Karau, MPA Tuyau, MPA Pengembara Posko 1 dan Posko 2, Damkar BKI, Damkar Bambulung, Damkar Ampah serta tim Kecamatan Pematang Karau.

Untuk mendukung operasi, tim mengerahkan enam kendaraan roda empat. Sarana yang digunakan antara lain tangki BKI berkapasitas 10.000 liter, armada Damkar Bambulung dan Damkar Ampah masing-masing berkapasitas 3.000 liter, empat nosel, 30 roll selang serta empat mesin Alkon.

Zainal mengatakan, jarak sumber air juga menjadi tantangan tersendiri dalam operasi tersebut. Embung dan sungai yang menjadi sumber pasokan air berada sekitar dua kilometer dari lokasi kebakaran sehingga distribusi air ke titik api membutuhkan dukungan armada dan peralatan yang memadai.

“Jarak sumber air sekitar dua kilometer dari titik api memang menjadi kendala di lapangan. Namun dengan dukungan seluruh personel dan sarana yang ada, api berhasil dikendalikan sampai kondisi terakhir dinyatakan padam,” ujarnya.

Areal yang terbakar tersebut merupakan kawasan berstatus Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK). Penugasan pengelolaan kawasan itu diberikan kepada PT Agrinas Palma Nusantara yang bermitra dengan PT Barito Palm Oil.

Zainal menegaskan, keberhasilan memadamkan kobaran api di permukaan belum serta-merta menandakan kebakaran pada lahan gambut telah sepenuhnya selesai. Bara yang tertinggal di bawah permukaan dapat kembali memicu api apabila tidak dilakukan pendinginan secara menyeluruh.

“Untuk lahan gambut, pemadaman tidak berhenti ketika api di permukaan sudah tidak terlihat. Tim harus melakukan pendinginan dan pengecekan kembali agar tidak ada bara di bawah permukaan yang dapat memicu api kembali,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)