SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Anak bekantan yang terpisah dari induk dan kawanannya saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami hipotermia ringan dan perut kembung saat pertama kali dibawa ke klinik hewan.

Dokter hewan Muhammad Rusdiansyah mengatakan, suhu tubuh anak bekantan tersebut sedikit lebih rendah dari kondisi normal. Paparan asap dan kemungkinan kekurangan oksigen diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisinya.

Selain itu, tim dokter menemukan kondisi perut yang kembung. Keluhan tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap ataupun masalah pencernaan, termasuk kemungkinan adanya parasit.

"Untuk saat ini kondisi masih aman, sehat aja," kata Rusdiansyah, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Anak bekantan berjenis kelamin jantan itu diperkirakan berusia sekitar 3-4 bulan dengan bobot kurang lebih 1 kilogram. Usianya masih tergolong bayi, ditandai dengan gigi yang belum tumbuh.

Untuk sementara, penanganan dilakukan dengan memberikan susu formula SGM 0 bulan dan sedikit daun-daunan muda sebagai makanan.

Berdasarkan informasi dari pihak yang mengantarkan yakni aktivis lingkungan, anak bekantan itu sempat terlihat lemas sebelum akhirnya jatuh. Ketinggian saat terjatuh belum dapat dipastikan. Namun, terdapat bekas goresan luka pada bagian tangan kanan.

"Informasinya dia di-rescue dari daerah Begendang, Karena karhutla juga, heeh betul," ujar Rusdiansyah.

Sebelumnya diberitakan, anak bekantan tersebut ditemukan saat proses pemadaman karhutla di sekitar Jembatan Sungai Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim, pada Kamis malam, 1 Oktober 2026.

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan sekitar pukul 23.00 WIB dari Damang Bagendang dan Sekretaris Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

Berdasarkan informasi yang Muriansyah terima, induk dan rombongan bekantan sebelumnya berada di sekitar lokasi. Anak bekantan itu diduga terpisah ketika kebakaran terjadi di kawasan tersebut.

Anak satwa dilindungi itu kemudian dibawa aktivis lingkungan ke klinik hewan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. (DEWI PATMALASARI/j)