BORNEONEWS, Palangka Raya - Universitas Sumatera Utara (USU) menggandeng tiga perguruan tinggi internasional dari Malaysia, Turki, dan Lithuania dalam penelitian kolaborasi internasional untuk mendukung keberlanjutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu, Sumatera Utara. Penelitian ini mengembangkan pendekatan Nature-Based Solutions (NbS) yang mengintegrasikan konservasi hutan, kesesuaian lahan, pertanian berkelanjutan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Kegiatan penelitian dilaksanakan di Desa Telagah, Telagah C, khususnya Dusun Lau Lepar, Kabupaten Langkat, yang merupakan bagian dari kawasan DAS Wampu. Tim peneliti melakukan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kondisi sosial masyarakat, potensi kehutanan, hasil hutan bukan kayu, pertanian, ekowisata, kondisi lingkungan, serta kebutuhan pengembangan wilayah.
Penelitian ini diketuai oleh Prof. Dr. Rahmawaty, dengan anggota peneliti Prof. Abdul Rauf, Dr. Ridahati, Nurulina Sebayang, M.Si., dan Dr. Suranto. Kolaborasi internasional melibatkan Prof. M. Hasmadi dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Dr. Mehmet Cetin dari Ondokuz May?s University (OMU), Turki, dan Prof. Dr. Vitas Marozas dari Vytautas Magnus University (VMU), Lithuania.
Penelitian juga melibatkan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman pembelajaran langsung melalui observasi, pengumpulan data, identifikasi potensi sumber daya alam, serta interaksi dengan masyarakat di lapangan.
"Pendekatan Nature-Based Solutions menjadi salah satu fokus utama penelitian. Pendekatan ini diarahkan untuk memanfaatkan dan memperkuat fungsi alami ekosistem dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat," kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Rabu, 30 September 2026.
Dalam konteks DAS Wampu, pendekatan tersebut dikembangkan melalui integrasi konservasi hutan, kesesuaian lahan, agroforestri, hasil hutan bukan kayu, pengembangan komoditas lokal, dan ekowisata berbasis masyarakat.
Wilayah penelitian memiliki keterkaitan erat dengan kawasan hutan, termasuk Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Kondisi ini menjadikan konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan sebagai aspek penting dalam perencanaan pengembangan wilayah.
Analisis kesesuaian lahan juga dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan lahan yang sesuai dengan karakteristik biofisik wilayah. Dengan demikian, pengembangan komoditas pertanian dan tanaman kehutanan diharapkan dapat dilakukan pada lokasi yang tepat sekaligus mengurangi potensi degradasi lingkungan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Lau Lepar memiliki potensi ekonomi yang besar dari sektor pertanian dan hasil hutan bukan kayu. Tanaman aren menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat, dengan kontribusi yang diperkirakan mencapai sekitar 80 persen dari pendapatan masyarakat, sementara sekitar 20 persen berasal dari komoditas seperti kecombrang dan hasil pertanian lainnya.
Produksi gula aren diperkirakan mencapai 500–700 kilogram per minggu. Selain aren, masyarakat juga mengembangkan kelapa, durian, jengkol, petai, duku, kecombrang, dan berbagai jenis tanaman lainnya.
Pada 2025, luas lahan yang dikelola masyarakat diperkirakan mencapai 200–300 hektare. Pengelolaan lahan tersebut telah dilakukan secara turun-temurun. Dalam dialog dengan tim peneliti, masyarakat menyampaikan pentingnya mempertimbangkan sejarah dan praktik pengelolaan lahan oleh masyarakat dalam merumuskan kebijakan konservasi dan pembangunan wilayah.
Selain potensi pertanian dan kehutanan, Dusun Lau Lepar juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata berbasis masyarakat.
Kelompok Tani Lau Lepar memiliki potensi untuk dikembangkan melalui konsep ekowisata yang mengangkat kekayaan alam dan kearifan lokal. Salah satu potensi yang ditemukan adalah pancuran yang berada sekitar enam kilometer dari lokasi.
Wilayah tersebut juga memiliki Sungai Sei Bingai, termasuk konsep lubuk larangan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya konservasi sumber daya perairan sekaligus atraksi ekowisata berbasis masyarakat.
Semangat gotong royong masyarakat masih terlihat dalam berbagai kegiatan, termasuk upaya memperbaiki akses jalan. Sekitar 150 meter jalan telah dicor dengan kebutuhan sekitar 2.000 sak semen. Namun, aksesibilitas masih menjadi kendala utama dalam pengembangan wilayah.
Tim penelitian juga mencatat sekitar 1.500 batang tanaman telah ditanam di kawasan masyarakat. Tersedia pula bibit kelapa sekitar 400 batang serta bibit durian, jengkol, petai, dan duku yang siap untuk dikembangkan.
Namun, keberhasilan program penanaman tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bibit. Pemeliharaan pascatanam menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi.
Masyarakat juga menghadapi persoalan penyakit pada tanaman jahe yang hingga kini belum memperoleh solusi efektif. Sebagai salah satu alternatif diversifikasi komoditas, tim mendorong pengembangan kapulaga yang dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk dikembangkan sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan masyarakat.
"Melalui kolaborasi USU dengan UPM Malaysia, OMU Turki, dan VMU Lithuania, penelitian ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan DAS Wampu," terangnya.
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkuat hubungan antara konservasi hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan sumber daya alam yang sesuai dengan daya dukung lingkungan.
Dua kebutuhan utama yang teridentifikasi dari hasil diskusi dengan masyarakat adalah perbaikan akses jalan dan pengadaan serta pengembangan bibit kapulaga sebagai alternatif komoditas. Kebutuhan tersebut menjadi bahan penting untuk penyusunan tindak lanjut penelitian dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model riset internasional yang berdampak, dengan menghubungkan perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mewujudkan pengelolaan DAS Wampu yang berkelanjutan.
Melalui pendekatan Nature-Based Solutions, DAS Wampu tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang perlu dilindungi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun masa depan masyarakat yang selaras dengan kelestarian hutan, pertanian berkelanjutan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana. (TESTI PRISCILLA/J)









