PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Menanam mangrove bukan akhir dari upaya menjaga pesisir. Ekosistem yang tumbuh di garis pantai itu membutuhkan pengelolaan berkelanjutan agar fungsi ekologisnya tetap terjaga sekaligus mampu menopang kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian International Summer Course Mangrove yang digelar Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Pusat Unggulan Iptek (PUI) Mangrove USU di kawasan mangrove Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Dosen Fakultas Kehutanan USU, Prof Rahmawaty, mengatakan keberadaan mangrove memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tanaman pelindung pantai.

“Mangrove tidak hanya melindungi wilayah pesisir dari abrasi, tetapi juga menyimpan karbon, menjaga keanekaragaman hayati serta mendukung kehidupan dan mata pencaharian masyarakat,” kata Prof Rahmawaty, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Karena itu, menurut dia, konservasi mangrove harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas masyarakat pesisir. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Pendekatan tersebut pula yang dikenalkan kepada sekitar 40 peserta International Summer Course Mangrove. Peserta berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Pakistan, Nigeria hingga Mali, dengan latar belakang mahasiswa S1, magister dan doktoral.

Peserta tidak hanya menerima materi di ruang kelas. Mereka dibawa langsung ke kawasan mangrove Pantai Sejarah untuk melihat kondisi ekosistem, berinteraksi dengan masyarakat, melakukan fieldtrip hingga menanam mangrove bersama.

Prof Rahmawaty mengatakan pengalaman lapangan menjadi bagian penting karena pembelajaran tentang mangrove tidak cukup berhenti pada teori.

“Melalui kegiatan lapangan dan edukasi, peserta diajak memahami berbagai fungsi penting mangrove sekaligus melihat langsung bagaimana ekosistem ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Menariknya, pembahasan dalam summer course juga mulai diarahkan pada pemanfaatan mangrove dalam kerangka bioekonomi. Ketua Summer Course Mangrove, Dr Amelia, menyampaikan bahwa mangrove memiliki potensi menjadi sumber pendapatan masyarakat apabila dikelola secara tepat dan tidak mengorbankan fungsi ekologisnya.

Selama tujuh hari kegiatan, peserta mempelajari ekologi mangrove hingga teknologi pengolahan hasil hutan mangrove, termasuk tannin, arang aktif, pewarna alami dan biopelet. Peserta juga dikenalkan dengan perhitungan stok karbon serta perdagangan karbon.

Bagi peserta asal Pakistan, Nazakat Hussain, pengalaman terjun langsung ke kawasan mangrove bersama masyarakat memberikan perspektif berbeda. Ia menilai kawasan mangrove Sumatera Utara memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian keberlanjutan pesisir.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi, mahasiswa, masyarakat dan mitra internasional. Sejumlah narasumber dari Malaysia, Jepang, Mesir dan perguruan tinggi lainnya turut terlibat dalam rangkaian kegiatan.

Dekan Fakultas Kehutanan USU Prof Dr Arida yang diwakili Wakil Dekan Dr Anita berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda tahunan dan memperkuat posisi USU sebagai salah satu pusat riset mangrove di wilayah Barat Indonesia.

Prof Rahmawaty menegaskan, tantangan pengelolaan mangrove ke depan bukan sekadar memperbanyak penanaman, tetapi memastikan ekosistem yang sudah ditanam dapat bertahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat dan mitra internasional menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berlanjut pada upaya menjaga ekosistem dan membangun ketahanan masyarakat pesisir,” pungkasnya.