BORNEONEWS, Palangka Raya — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya merilis data terkini mengenai perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut selama masa Siaga Darurat.
Data mencatat, sejak penetapan status pada 1 Juni 2026 hingga 2 Oktober 2026, telah terjadi sebanyak 752 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 1.369,95 hektare yang tersebar di sejumlah lokasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Palangka Raya, Heri Fauzi, menegaskan bahwa angka ini menjadi gambaran nyata mengenai besarnya dampak karhutla yang terjadi di Kota Palangka Raya sepanjang tahun ini.
“Data ini merupakan hasil pemantauan dan pencatatan yang dilakukan secara terus-menerus di lapangan oleh petugas di berbagai kecamatan. Angka ini menunjukkan betapa besarnya tantangan yang kita hadapi dalam penanganan karhutla,” ujar Heri Fauzi, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Secara rinci, sebaran kejadian terbesar berada di Kecamatan Jekan Raya dengan 462 kejadian.
Selanjutnya, Kecamatan Sebangau tercatat mengalami 161 kejadian, Kecamatan Bukit Batu sebanyak 63 kejadian, Kecamatan Pahandut tercatat 62 kejadian, dan Kecamatan Rakumpit sebanyak 4 kejadian.
Heri menjelaskan bahwa tingginya angka kejadian ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi cuaca yang masih kering, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, serta masih adanya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh sebagian masyarakat.
“Kami menyadari bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Sinergi dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk memutus mata rantai kebakaran ini,” jelasnya.
Oleh karena itu, pihaknya terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun.
Masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kebakaran atau titik api melalui Call Center BPBD Kota Palangka Raya di nomor 112 yang siap melayani laporan masyarakat selama 24 jam.
“Mari kita jaga lingkungan kita bersama. Pencegahan jauh lebih baik dan murah dibandingkan penanganan. Semoga ke depan angka karhutla di Kota Palangka Raya dapat terus kita tekan bersama,” pungkas Heri Fauzi. (PATHUR/j)









