SAMPIT –

‎BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah kecamatan, termasuk Kecamatan Mentaya Hulu.

‎‎Camat Mentaya Hulu Edison mengatakan, kondisi tersebut menjadi evaluasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana serupa ke depan. Terlebih, berdasarkan pengalamannya, kemarau panjang biasanya akan diikuti perubahan kondisi cuaca yang berpotensi memicu banjir.
‎
‎“Karhutla ini merupakan suatu pembelajaran juga ke depan bagi kami untuk mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk penanganan kabut asap ini. Kalau kita belajar dari keadaan ini, kemungkinan ke depan akan terjadi lagi,” ujar Edison, Sabtu, 3 Oktober 2026.
‎
‎Menurutnya, kemarau yang berlangsung cukup panjang saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Ia yang merupakan putra daerah setempat mengaku memahami karakteristik cuaca di wilayah tersebut.
‎
‎Ia menyebut, masyarakat perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir dengan intensitas cukup tinggi setelah periode kemarau panjang berakhir.
‎
‎“Saya lahir dan besar di sini, jadi saya tahu persis. Kalau kemarau panjang seperti ini, biasanya akan ada balasnya, pantun berbalas pantun. Artinya, nanti akan ada banjir yang luar biasa juga terjadi di sini,” jelasnya.
‎
‎Karena itu, ia menilai kesiapan menghadapi bencana tidak hanya diperlukan saat karhutla dan kabut asap terjadi, tetapi juga untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi setelahnya.
‎
‎Di sisi lain, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah kecamatan. Edison mengatakan, sejumlah keluhan kesehatan yang muncul di tengah kondisi tersebut di antaranya diare akibat persoalan air bersih serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
‎
‎“Penyakit yang terjadi seperti biasa, diare karena masalah air bersih, terus ISPA. ISPA itu infeksi saluran pernapasan atas. Tapi semuanya Alhamdulillah bisa ditangani di sini oleh Puskesmas dan petugas kesehatan yang ada,” katanya.
‎
‎Untuk penanganan dampak kesehatan, pemerintah kecamatan terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan pihak terkait agar masyarakat yang mengalami keluhan dapat segera memperoleh pelayanan.
‎
‎Sementara itu, sektor pendidikan juga turut terdampak kondisi kabut asap. Edison menyebut, ketika kebijakan peliburan diberlakukan oleh pemerintah kabupaten, aktivitas belajar mengajar di wilayah Mentaya Hulu juga mengikuti kebijakan tersebut.
‎
‎“Kalau dari kabupaten diliburkan, mereka libur juga di sini. Sekarang ini masih tahap belajar di rumah,” ungkapnya.
‎
‎Edison menambahkan, koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kotim terus dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan di tengah kondisi yang ada.
‎
‎Ia berharap dukungan dan bantuan dari pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dapat terus diperkuat, tidak hanya untuk penanganan karhutla dan dampak kabut asap, tetapi juga sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi bencana berikutnya.
‎
‎“Kami selalu koordinasi. Mudah-mudahan bantuan dari pemerintah daerah maupun provinsi bisa terus diberikan sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (DEVI/j)