BORNEONEWS, Moskow – Gelombang protes pelajar di Prancis terus mengganggu aktivitas pendidikan. Sebanyak 735 sekolah terdampak aksi pada Jumat, 2 Oktober 2026, mulai dari pemblokiran akses hingga gangguan kegiatan belajar.
Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, mengatakan jumlah sekolah yang terdampak memang menurun hampir 30 persen dibandingkan sehari sebelumnya, ketika lebih dari 1.000 sekolah ikut terseret dalam gelombang aksi.
“Siang ini, kegiatan di 735 sekolah mengalami gangguan dalam berbagai bentuk. Angka itu hampir 30 persen lebih rendah dibandingkan kemarin,” kata Geffray.
Aksi pelajar telah berlangsung selama beberapa hari dan menyebar ke berbagai wilayah Prancis.
Para siswa sekolah menengah mempersoalkan sejumlah masalah, mulai dari kondisi bangunan sekolah, jumlah murid dalam kelas, kekurangan guru hingga ritme dan jadwal pembelajaran. Pemerintah juga mengakui persoalan guru yang tidak segera mendapat pengganti ketika berhalangan menjadi salah satu keluhan yang muncul.
Pada Kamis, 1 Oktober, lebih dari 1.020 sekolah menengah dilaporkan terdampak aksi atau mogok, termasuk ratusan sekolah yang mengalami pemblokiran.
Sejumlah demonstrasi kemudian berkembang menjadi bentrokan dan perusakan di beberapa kota.
Pemerintah Prancis menyebut sebagian aksi telah bergeser dari protes sekolah menjadi kekerasan di ruang publik. Namun organisasi pelajar tetap menyuarakan tuntutan mereka terkait kondisi pendidikan.
Geffray mengatakan tingkat kekerasan terhadap staf sekolah pada Jumat mengalami penurunan.
Tiga tenaga kependidikan dilaporkan terluka, jauh lebih sedikit dibandingkan Kamis ketika 31 staf sekolah mengalami luka.
Pemerintah kemudian membuka dialog dengan organisasi pelajar dan orang tua untuk membahas tuntutan yang berkembang.
Geffray juga menyatakan pemerintah akan mempercepat langkah untuk mengatasi persoalan guru yang tidak memiliki pengganti serta meninjau kembali sejumlah persoalan terkait ritme sekolah.
Meski jumlah sekolah terdampak mulai berkurang, aksi belum sepenuhnya mereda dan mobilisasi lanjutan masih diserukan oleh sebagian kelompok pelajar.
ANTARA









