BORNEONEWS, Tamiang Layang – Dampak kebakaran hutan dan lahan di Barito Timur tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah juga berdampak pada kesehatan ribuan warga.
Dinas Kesehatan Barito Timur mencatat sebanyak 2.336 kasus gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi karhutla sepanjang 18 Agustus hingga 30 September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur, Jimmi WS Hutagalung, mengatakan gangguan tersebut mencakup sejumlah keluhan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
“Dampak asap karhutla perlu diantisipasi, karena dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan. Karena itu, kami terus memperkuat pemantauan dan pelayanan kesehatan,” katanya, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Selain ribuan kasus gangguan kesehatan tersebut, Dinkes juga mencatat 173 kasus diare pada periode yang sama.
Data itu menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah dalam memperkuat penanganan dampak karhutla, terutama terhadap warga yang rentan terpapar asap.
Dinkes terus melakukan pemantauan melalui fasilitas pelayanan kesehatan serta menyiapkan obat-obatan dan masker untuk masyarakat terdampak.
Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
“Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan, mengurangi paparan asap dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan kesehatan,” ujar Jimmi.
Keluhan seperti batuk, sesak napas maupun gangguan kesehatan lainnya diminta segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Berdasarkan laporan BPBD Damkar Barito Timur, hingga akhir September 2026 tercatat 704 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 671,5 hektare.
Pemerintah daerah juga terus memantau kualitas udara, mendukung distribusi air bersih serta memperkuat koordinasi lintas sektor selama kondisi karhutla masih berlangsung.
Sekretaris Daerah Barito Timur, Misnohartaku, mengingatkan seluruh unsur penanganan tetap waspada meski tren kejadian kebakaran mulai menurun.
“Meskipun tren kejadian karhutla mulai menurun, sejumlah titik panas masih terpantau meningkat dan berada di lokasi yang sulit dijangkau petugas,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi cuaca masih perlu diwaspadai hingga Oktober sehingga potensi kebakaran susulan tetap menjadi perhatian.
“Seluruh unsur terkait harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan karhutla,” kata Misnohartaku.









