BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat sejak Minggu, 4 Oktober 2026.
Kondisi tersebut membuat kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) yang sebelumnya sempat kembali dilaksanakan harus ditiadakan. Pada 5-6 Oktober 2026, sekolah di Pangkalan Bun kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kondisi kabut asap yang kembali menebal.
Berdasarkan data BPBD Kobar, Satgas Karhutla hingga kini masih melakukan pemadaman di sejumlah titik. Di antaranya berada di Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, yakni pada KM 8-10 dan KM 24-25, serta beberapa lokasi lainnya di wilayah Kabupaten Kobar.
Seorang warga Pangkalan Bun, Agus, mengatakan kondisi asap sebenarnya sempat berangsur membaik pada beberapa hari sebelumnya. Sekitar Jumat, 2 Oktober 2026, kabut asap di dalam Kota Pangkalan Bun terlihat mulai menipis.
"Beberapa hari lalu, sekitar Jumat, kondisi asap di dalam kota sudah berangsur menipis. Tetapi pada Sabtu, 4 Oktober, asap kembali menebal," jelas Agus.
Menurutnya, kondisi tersebut terutama terlihat pada sore hari. Bahkan, suasana di dalam kota tampak menguning karena cahaya matahari tertutup kabut asap yang cukup tebal.
Agus khawatir kondisi kabut asap yang berlangsung berulang tersebut akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
"Lama-lama kondisi seperti ini pastinya akan berdampak pada kesehatan warga, baik jangka pendek maupun panjang," jelasnya.
Selain masyarakat, Agus juga merasa miris melihat kondisi para relawan dan petugas yang masih berjibaku melakukan pemadaman karhutla di berbagai lokasi.
Menurutnya, para pemadam tentunya mengalami kelelahan setelah berhari-hari menghadapi kebakaran. Namun upaya pemadaman harus terus dilakukan agar kebakaran tidak meluas dan kondisi asap tidak semakin parah.
"Para relawan pemadam karhutla tentunya sangat kelelahan. Namun saya yakin mereka terpaksa harus bertahan. Sebab kalau didiamkan saja, pastinya kondisi karhutla akan semakin parah," jelas Agus.
Ia juga meminta agar dugaan pembakaran lahan secara sengaja menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Menurutnya, jika kebakaran memang dilakukan untuk membuka lahan dengan cara murah, tindakan tersebut tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga masyarakat luas.
"Kebakaran hutan dan lahan yang diyakini sebagian besar warga disengaja oleh orang tertentu tentunya merupakan pelanggaran hukum," jelasnya.
Agus menilai kondisi kemarau dan fenomena cuaca yang terjadi seharusnya tidak dimanfaatkan untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
"Mereka hanya memanfaatkan situasi kemarau dan fenomena cuaca yang saat ini terjadi untuk keuntungan mereka saja, bisa membuka lahan dengan biaya minimal, dan tidak mempedulikan dampaknya bagi warga," jelasnya.
Dengan kembali menebalnya kabut asap dan masih berlangsungnya pemadaman di sejumlah titik, masyarakat berharap penanganan karhutla dapat segera membuahkan hasil sehingga aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat kembali berjalan normal. (WAHYU KRIDA/R)









