BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare di Kabupaten Kotawaringin Barat mengalami peningkatan di tengah musim kemarau dan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan peningkatan kasus tersebut terpantau dalam beberapa pekan terakhir. Namun, dalam dua minggu terakhir mulai terjadi penurunan dibandingkan saat kasus mencapai puncaknya.
"Kalau kita pantau untuk kasus ISPA dan diare dari dampak musim kemarau dan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat ini cukup ada peningkatan, sekitar 20 persen dari hari-hari biasa," kata Jhonferi saat dikonfirmasi, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, penurunan kasus mulai terlihat dalam dua minggu terakhir. Untuk kasus diare, misalnya, sempat mencapai 183 kasus dalam satu pekan sebelum kemudian turun menjadi 137 kasus dan kini berada di angka 86 kasus.
"Untuk saat ini dari data update terakhir tercatat 86 kasus diare dalam satu minggu. Pada puncak kasus sebelumnya ada 183 kasus, kemudian ada penurunan ke 137 kasus dan ini sudah turun di angka 99 kasus," jelasnya.
Sementara itu, kasus ISPA cenderung mengalami fluktuasi. Jumlah kasus sempat meningkat hingga mencapai 534 kasus, namun berdasarkan data terbaru turun menjadi 487 kasus dalam satu pekan.
"Untuk kasus ISPA ini fluktuatif, artinya kasusnya naik dan turun. Angka kasus ISPA meningkat sampai di angka 534 kasus. Untuk saat ini turun di angka 487 kasus," ujarnya.
Jhonferi mengatakan kondisi karhutla turut berpengaruh terhadap peningkatan kasus ISPA. Paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara sehingga meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan masyarakat.
Meski demikian, ia menyebut berbagai upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan dampak. Salah satunya melalui imbauan kepada masyarakat dan pembagian masker secara masif.
"Karhutla berpengaruh terhadap meningkatnya kasus ISPA. Dengan pencegahan yang dilakukan melalui imbauan dan pembagian masker yang masif, saat ini penurunan kasus ISPA dapat dilakukan," katanya.
Menurut Jhonferi, perubahan perilaku masyarakat dalam merespons kondisi kabut asap juga menjadi salah satu faktor yang membantu menekan kasus ISPA.
Masyarakat mulai mengikuti imbauan petugas untuk menggunakan masker dan mengurangi paparan asap saat beraktivitas di luar rumah.
"Dengan adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan masyarakat, mengikuti imbauan dari petugas, kita melihat ada penurunan kasus ISPA," pungkasnya. (DANANG/R)









