BORNEONEWS, Palangka Raya – Pendidikan kedokteran tidak cukup hanya berlangsung di ruang kuliah dan rumah sakit besar di perkotaan.
Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana pelayanan kesehatan berjalan di daerah yang memiliki akses, kebutuhan dan tantangan berbeda, termasuk wilayah pelosok.
Semangat itu menjadi salah satu dasar Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) menjajaki kerja sama dengan RSUD Hanau, Kabupaten Seruyan, yang lokasinya berapa di sebuah kecamatan dan bersinggungan dengan daerah pelosok, untuk memperkuat pendidikan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi.
Wakil Rektor III UMPR, Guntur Satrio Pratomo, mengatakan jejaring dengan rumah sakit daerah penting untuk memberi mahasiswa pengalaman yang lebih dekat dengan kondisi nyata pelayanan kesehatan masyarakat.
“Pendidikan kedokteran tidak cukup hanya dibangun melalui pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman klinis dan memahami secara langsung dinamika pelayanan kesehatan di masyarakat. Karena itu, UMPR terus membangun jejaring dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari ekosistem pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi,” ujarnya.
Menurut Guntur, kerja sama dengan RSUD Hanau tidak semata diarahkan untuk kepentingan akademik mahasiswa.
Lebih jauh, kolaborasi itu diharapkan ikut memperkuat sumber daya manusia kesehatan di daerah.
“Kami ingin membangun kerja sama yang memiliki manfaat jangka panjang. Bukan hanya untuk kepentingan pendidikan mahasiswa, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi dapat hadir dan mengambil bagian dalam penguatan sumber daya manusia kesehatan di daerah,” katanya.
Direktur Direktorat Kerja Sama Perguruan Tinggi UMPR, Rakhdinda Dwi Artha Qairi, mengatakan kunjungan ke RSUD Hanau masih merupakan tahap awal untuk memetakan kebutuhan dan potensi kedua pihak.
“Penjajakan ini kami lakukan untuk melihat kebutuhan dan potensi masing-masing pihak, kemudian mencari titik temu yang dapat dituangkan dalam bentuk kerja sama. Jadi, kami tidak ingin kerja sama berhenti pada dokumen administratif, tetapi harus memiliki program yang jelas dan memberikan manfaat bagi proses pendidikan maupun pelayanan,” ujarnya.
Ruang kerja sama yang dibahas antara lain mendukung pembelajaran klinis mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi, peningkatan kompetensi, kegiatan akademik serta bentuk kolaborasi lain yang sesuai dengan kebutuhan kedua institusi.
Bagi UMPR, keterlibatan rumah sakit daerah memberi nilai penting karena mahasiswa dapat mengenal karakter pelayanan kesehatan di luar pusat kota.
Mereka tidak hanya dituntut menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memahami kondisi sosial, geografis dan kebutuhan masyarakat yang mereka layani.
“Mahasiswa nantinya tidak hanya dituntut memiliki kompetensi secara keilmuan, tetapi juga memahami konteks pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Karena itu, kemitraan dengan rumah sakit di daerah menjadi salah satu bagian penting dalam memperkaya pengalaman pendidikan mereka,” kata Artha.
UMPR berharap penjajakan dengan RSUD Hanau berkembang menjadi kemitraan yang konkret dan berkelanjutan.
Jika terealisasi, mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi tidak hanya belajar menghadapi kasus klinis, tetapi juga mengenal langsung tantangan pelayanan kesehatan di daerah.
Pengalaman semacam itu diharapkan membantu melahirkan tenaga kesehatan yang bukan hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap bekerja di tengah kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok Kalimantan Tengah. (*/j)









