BORNEONEWS, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menekankan pentingnya peran sekolah dan guru dalam membentuk kemampuan berpikir siswa di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam pendidikan.
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Stella memaparkan data Consumer Insights 2026 yang menyebutkan sebanyak 61 persen responden di Indonesia menggunakan AI dalam pendidikan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan India dan Amerika Serikat yang masing-masing 22 persen, serta Belanda sebesar 14 persen.
"Pertanyaannya adalah apakah ini baik atau buruk?" katanya.
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa proses belajar berkaitan dengan bagaimana otak manusia bekerja. Profesor psikologi kognitif itu memperkenalkan konsep cognitive offloading, yaitu ketika seseorang menyerahkan proses berpikir kepada alat atau teknologi.
Menurutnya, dengan kemudahan teknologi saat ini, hal yang perlu dilihat bukan hanya apakah seorang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi apakah kemampuan yang seharusnya dilatih melalui tugas tersebut tetap berkembang.
Oleh karena itu, Wamendiktisaintek mengajak para guru untuk memahami proses belajar melalui perspektif ilmu kognitif karena kemampuan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan lainnya berkembang melalui latihan.
"Pemahaman tersebut menjadi penting untuk menyikapi penggunaan AI di sekolah, agar penggunaan teknologi tidak menggantikan proses kognitif peserta didik," ujarnya.
Wamen Stella memaparkan sebuah studi menunjukkan penggunaan AI sebagai tutor meningkatkan hasil selama proses latihan sebesar 127 persen. Namun ketika diuji kembali tanpa AI, kelompok yang menggunakan AI sebagai tutor tidak menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan AI.
Ia juga menyampaikan penelitian yang menunjukkan kemampuan diagnosis dokter turun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen setelah tiga bulan menggunakan AI secara rutin.
Oleh karena itu, Stella mengingatkan bahwa apabila AI mengambil alih proses memecahkan masalah, merangkum, dan menyusun informasi, proses belajar manusia dapat ikut berkurang.
"Kalau hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, bukti yang saya sampaikan, masih banyak lagi, cuma saya waktunya sedikit, sampai saat ini memperlihatkan bahwa manusianya jadi tidak belajar," kata dia menegaskan.
Meskipun demikian, Wamen Stella mengatakan hal tersebut bukan berarti AI harus dijauhkan dari proses pendidikan. Bagian terpenting adalah memastikan AI digunakan agar peserta didik tetap terlibat dalam proses berpikir dan belajar.
Menurut dia, AI dapat menjadi bagian dari pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir. Misalnya, peserta didik dapat menggunakan AI untuk membuat gambar, tetapi tetap perlu membandingkan hasil, menentukan pilihan, menjelaskan alasannya, serta memikirkan dan menyusun prompt yang digunakan.
Dalam konteks tersebut, Wamen Stella menegaskan pentingnya peran guru untuk membantu peserta didik memahami konsekuensi penggunaan AI, termasuk memahami kapan AI digunakan dan bagaimana penggunaannya mempengaruhi proses belajar. Ia juga mendorong para guru merancang tugas yang tetap melibatkan proses berpikir peserta didik.
ANTARA









