PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Hari Habitat Dunia yang diperingati setiap Senin pertama Oktober menjadi momentum untuk kembali melihat kondisi permukiman sekaligus memperkuat kesadaran mengenai hak setiap orang atas tempat tinggal yang layak dan berkelanjutan.

Pada 2026, Hari Habitat Dunia jatuh pada Senin, 5 Oktober. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman atau PUPR Provinsi Kalimantan Tengah, Prof. Dr. Ir. Juni Gultom, ST., MTP, menyampaikan bahwa peringatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan rumah, tetapi juga bagaimana lingkungan permukiman ditata agar aman, sehat dan berkelanjutan.

Menurut Prof Juni, Hari Habitat Dunia menjadi kesempatan untuk merefleksikan perkembangan kawasan perkotaan maupun permukiman, terutama di tengah pertumbuhan penduduk dan berbagai tantangan pembangunan.

“Peringatan Hari Habitat Dunia mengingatkan kita bahwa hunian yang layak merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak setiap manusia,” kata Juni kepada Borneonews pada Senin, 5 Oktober 2026.

Ia menuturkan, persoalan hunian tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan tempat masyarakat tinggal. Karena itu, pembangunan perumahan perlu berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dasar, sanitasi, akses air bersih, pengelolaan lingkungan serta penataan ruang yang baik.

Juni juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kawasan permukiman. Menurutnya, lingkungan yang layak huni tidak hanya dibentuk melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kepedulian bersama untuk merawat lingkungan.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Kita tidak hanya membangun tempat tinggal, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung kehidupan masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya lagi.

Hari Habitat Dunia ditetapkan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi 40/202 pada 1985 dan pertama kali diperingati pada 1986 dengan tema “Shelter is My Right” atau tempat tinggal adalah hak saya.

Sejak saat itu, peringatan tersebut terus menjadi momentum global untuk mengangkat berbagai persoalan perkotaan dan permukiman, termasuk sanitasi, perumahan inklusif serta upaya menghadapi dampak perubahan iklim di kawasan perkotaan.

Juni berharap momentum Hari Habitat Dunia 2026 dapat memperkuat komitmen seluruh pihak dalam mewujudkan kawasan permukiman yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga nyaman, aman, sehat dan mampu bertahan menghadapi tantangan lingkungan di masa mendatang. (TESTI PRISCILLA/y)