SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setelah sempat menipis sehari sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara yang pada Selasa, 6 Oktober 2026, tercatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 1.289 dan masuk kategori berbahaya.

Salah seorang warga Sampit, Akbar, mengatakan kondisi udara pada Senin masih terasa lebih baik. Asap tidak terlalu pekat sehingga dirinya masih dapat beraktivitas di luar rumah dengan relatif nyaman.

"Senin kemarin udaranya sudah mulai enak. Saya kira akan berangsur membaik. Ternyata hari ini mulai berasap lagi," kata Akbar, Selasa, 6 Oktober 2026.

Namun, kondisi kembali berubah ketika kabut asap mulai menebal. Selain mengganggu kenyamanan saat beraktivitas, Akbar mengaku merasakan sakit kepala ketika terpapar asap.

"Kalau asap tebal ini saya merasa sakit kepala karena menghirup asap. Mata juga perih karena angin membawa partikel kebakaran lahan beterbangan," ujarnya.

Kembalinya kabut asap menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama saat konsentrasi polutan di udara meningkat.

Berdasarkan data ISPU net Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), indeks kualitas udara di Kotim pada Selasa, 6 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB tercatat 1.289. Parameter kritis berada pada PM10 dan status kualitas udara masuk kategori berbahaya.

Pada kategori tersebut, kondisi udara dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat sehingga membutuhkan penanganan secara cepat.

Kondisi kabut asap yang kembali muncul pada awal Oktober menunjukkan dampak karhutla masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai masyarakat Kotim. (DEWI PATMALASARI/y)