BORNEONEWS, Jakarta – Kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah tidak selalu bermula dari api yang terlihat di permukaan. Masalahnya justru sudah muncul lebih dulu ketika sistem hidrologi gambut terganggu dan muka air tanah turun.
Peneliti Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, menjelaskan gambut pada kondisi sehat mampu menyimpan air dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan.
Fungsi itu membantu menahan air ketika curah hujan tinggi sekaligus menjaga kelembapan saat musim kemarau.
Masalah muncul ketika gambut dikeringkan terlalu jauh.
“Ketika gambut dikeringkan, gambut berubah menjadi sumber risiko. Muka air tanah turun, gambut mengering, kemudian risiko kebakaran meningkat. Pada saat yang sama, terjadi subsiden dan emisi karbon,” kata Dony dalam diskusi di Kantor BRIN, Jakarta, dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurutnya, kondisi gambut yang terlalu kering membuat lapisan tanah organik jauh lebih mudah terbakar.
Kebakaran gambut juga memiliki karakter yang berbeda dengan kebakaran lahan biasa.
Api dapat muncul dalam bentuk flaming atau pembakaran di permukaan, tetapi juga smouldering, yakni pembakaran yang berlangsung di dalam lapisan gambut.
Jenis kedua ini jauh lebih sulit terlihat dan dapat bertahan lama di bawah tanah.
“Karena itu, kebakaran gambut adalah masalah hidrologi sebelum menjadi masalah api,” ujarnya.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu contoh penting dalam pembelajaran kebakaran gambut.
Dony menyinggung kejadian di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa.
Pada 2026, kebakaran di kawasan tersebut bermula dari titik panas berukuran kecil.
Ketika kondisi lahan semakin mendukung, jumlah titik panas bertambah dan berkembang menjadi front api yang menyebar lebih cepat.
Kondisi itu menunjukkan pemantauan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan munculnya api atau asap.
Kelembapan gambut dan ketinggian muka air tanah juga perlu diawasi sebagai tanda awal kerentanan.
“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” kata Dony.
Karena itu, upaya pencegahan karhutla di lahan gambut dinilai perlu dimulai jauh sebelum api muncul.
Menjaga gambut tetap basah menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko kebakaran, menjaga simpanan karbon dan mempertahankan fungsi ekologisnya.
“Kuncinya adalah menjaga air tetap berada di dalam gambut. Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya dapat dipertahankan, risiko kebakaran dapat ditekan, karbon tetap tersimpan, dan masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengembangkan sumber penghidupan secara berkelanjutan,” ujarnya.
ANTARA









