JAKARTA –

BORNEONEWS, Kendari – Persoalan daerah aliran sungai, perubahan iklim dan keberlanjutan hutan menjadi bagian dari isu yang dibawa Universitas Sumatera Utara dalam The 2nd International Conference of Forestry and Environment 2026 di Kendari, Rabu, 7 Oktober 2026.

Dalam forum tersebut, Prof. Rahmawaty dari Fakultas Kehutanan USU mempresentasikan hasil penelitian kolaborasi internasional yang berkaitan dengan kehutanan, lingkungan dan pengelolaan daerah aliran sungai.

Konferensi bertema Forest for Future: Climate, Biodiversity, and Sustainability itu mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi kehutanan hingga pemangku kebijakan.

Rahmawaty mengatakan forum internasional penting karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin atau satu institusi.

“Forum seperti ini sangat penting untuk memperkuat kolaborasi akademik dan penelitian. Berbagai hasil riset dapat dipertukarkan dan dikembangkan menjadi kerja sama yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Dalam konferensi tersebut, pembahasan tidak hanya menyentuh isu kehutanan secara umum.

Sejumlah tema yang dibahas meliputi perubahan iklim dan ketahanan hutan, konservasi biodiversitas, restorasi ekosistem, ekonomi hijau, kehutanan berbasis masyarakat hingga penggunaan teknologi dalam pengelolaan lingkungan.

Isu pengetahuan lokal juga menjadi bagian dari pembahasan.

Menurut Rahmawaty, kolaborasi lintas kampus dan lembaga penelitian dibutuhkan agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang lebih nyata.

Khusus pada isu daerah aliran sungai, penelitian dinilai penting karena pengelolaannya berkaitan langsung dengan kondisi hutan, tata guna lahan, ketersediaan air serta kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Kehadiran USU dalam forum tersebut juga membuka peluang kerja sama baru dengan perguruan tinggi dan peneliti dari berbagai daerah maupun negara.

Rahmawaty berharap jaringan yang terbangun dapat berkembang menjadi penelitian bersama, pertukaran pengetahuan maupun pengembangan inovasi di bidang kehutanan dan lingkungan.

Ia juga mengapresiasi Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo yang menjadi penyelenggara konferensi tersebut.

“Semoga kegiatan ini semakin memperkuat jejaring dan kolaborasi untuk masa depan hutan dan lingkungan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Konferensi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan diskusi, tetapi juga melahirkan kerja sama baru yang dapat menjawab persoalan kehutanan, biodiversitas dan perubahan iklim secara lebih konkret. (*/j)