SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Beruang yang mengalami luka parah di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih belum ditemukan hingga hari kedua pencarian oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit.

Pencarian kembali dilakukan pada Rabu, 7 Oktober 2026, dengan melibatkan sejumlah aktivis lingkungan Sampit. Tim menyisir kembali lokasi awal kemunculan beruang hingga memasuki kawasan kebun dan hutan di sekitar lokasi.

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan pencarian masih akan dilanjutkan karena kondisi luka pada beruang tersebut dinilai cukup serius dan berpotensi membahayakan kelangsungan hidupnya jika tidak segera mendapat penanganan.

"Kami masih tetap melakukan pencarian dibantu kawan-kawan aktivis lingkungan Sampit. Kalau luka yang dialami beruang seperti itu, lalu hidup di alam, menurut pendapat saya sulit sembuhnya karena bisa saja terkena infeksi. Makanya, kalau ketemu beruangnya mau diselamatkan," kata Muriansyah, Kamis, 8 Oktober 2026.

Pada pencarian hari kedua, tim kembali menyusuri area dari titik awal beruang terlihat. Pencarian diperluas hingga ke kebun dan kawasan hutan di sebelah kiri lokasi. Namun, keberadaan satwa tersebut belum ditemukan.

Pencarian kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan menyusuri sejumlah sumber air dan parit yang berada di sekitar lokasi. Tim juga memeriksa titik-titik yang diperkirakan menjadi sumber pakan, termasuk kebun nanas milik warga.

Aktivis lingkungan menyisir kebun dan kawasan hutan di sisi kanan lokasi. Dalam pencarian tersebut, tim juga menggunakan satu unit drone untuk membantu memantau area dari udara.

Meski pencarian dilakukan dari beberapa sisi, beruang yang sebelumnya terlihat dalam kondisi terluka tersebut masih belum berhasil ditemukan.

Sebelumnya diberitakan, keberadaan beruang terluka dilaporkan pada Selasa, 6 Oktober 2026. Satwa yang diperkirakan berusia remaja hingga dewasa itu terlihat berada di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat.

Dalam video yang beredar, beruang tampak mengalami luka serius pada bagian telapak kaki belakang kiri. Satwa tersebut terlihat berusaha melepaskan diri dari tumpukan ranting dan kayu di sungai pangaringan.

Dari kondisi luka yang terlihat, BKSDA Pos Sampit menduga kuat beruang tersebut menjadi korban jerat. Jerat itu diperkirakan berupa kawat atau sling baja yang lazim digunakan untuk menangkap babi.

Muriansyah sebelumnya menjelaskan, beruang diduga berusaha melepaskan diri dalam waktu cukup lama hingga bagian kaki belakangnya mengalami cedera parah dan akhirnya putus.

BKSDA kemudian mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Pencarian pada hari pertama dilakukan bersama aktivis lingkungan dengan menyisir kawasan kebun kelapa sawit sekitar dua hektare. Namun, hingga hari mulai gelap, satwa tersebut belum ditemukan.

Lokasi kemunculan beruang juga berada di dekal lokasi yang terdapat sejumlah titik kebakaran lahan. Meski demikian, BKSDA belum dapat memastikan hubungan antara luka atau keberadaan beruang dengan karhutla karena satwa tersebut belum berhasil ditemukan dan diperiksa secara langsung.

Keberadaan beruang di sekitar kawasan tersebut juga disebut bukan kali pertama. Berdasarkan keterangan warga, beruang beberapa kali terlihat di sekitar lokasi bahkan sebelum musim kemarau. Beruang juga dilaporkan pernah mendatangi kebun nanas warga dan memakan tanaman tersebut.

BKSDA Pos Sampit akan tetap berupaya mencari keberadaan beruang untuk memastikan kondisi satwa tersebut. Jika berhasil ditemukan, beruang yang mengalami luka serius itu rencananya akan diselamatkan dan mendapatkan penanganan lebih lanjut. (DEWI PATMALASARI/H)