BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah Kota Palangka Raya menyiapkan anggaran sebesar Rp6,7 miliar melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2027.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi ancaman karhutla yang kerap terjadi saat musim kemarau tiba.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini menjelaskan bahwa alokasi anggaran tersebut disiapkan jauh-jauh hari agar penanganan karhutla ke depan dapat dilakukan lebih terencana dan tidak bersifat mendadak.
Anggaran ini menjadi fondasi utama dalam memperkuat langkah pencegahan maupun penindakan di lapangan.
"Anggaran sebesar Rp 6,7 miliar ini kami siapkan khusus untuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi terjadi setiap musim kemarau. Semua direncanakan matang agar saat darurat terjadi, kita sudah siap bertindak cepat," ujar Achmad Zaini, Kamis 8 Oktober 2026.
Selain anggaran, Pemko Palangka Raya juga mulai memperkuat langkah pencegahan jangka panjang. Salah satunya melalui rencana pengadaan alat berat untuk mendukung program pembukaan lahan tanpa bakar.
Langkah ini dinilai penting untuk mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus menekan risiko kebakaran sejak dari sumbernya.
Untuk penganggaran alat berat pembukaan lahan tanpa bakar, kami sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Namun komitmen untuk mendukung program ini tetap kami jaga agar masyarakat semakin beralih dari cara bakar ke cara yang lebih ramah lingkungan," tambahnya.
Kebijakan ini dirancang untuk memperkuat strategi pengendalian karhutla secara menyeluruh, mulai dari upaya pencegahan di hulu hingga penanganan cepat di lapangan.
Sinergi antara anggaran, peralatan, dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Dengan dukungan anggaran dan penguatan langkah pencegahan tersebut, Pemko Palangka Raya menargetkan penanganan karhutla pada tahun 2027 dapat berjalan lebih terencana, terkoordinasi, dan efektif.
Dampak kebakaran dan kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat pun diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.
"Kami ingin penanganan karhutla tidak lagi sekadar memadamkan api saat terjadi, tetapi juga mencegah sejak dini. Semoga dengan persiapan yang lebih matang, beban masyarakat akibat kabut asap dapat berkurang secara signifikan pada tahun depan," pungkas Achmad Zaini. (PATHUR/R)









