PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya pada awal Oktober 2026.

Kondisi ini menyebabkan sejumlah penerbangan dibatalkan dan mengalami keterlambatan dari dan ke Palangka Raya.

Berdasarkan catatan pihak bandara, pada periode 1 hingga 6 Oktober 2026 ada 14 penerbangan yang dibatalkan akibat menurunnya jarak pandang. Selain itu 12 penerbangan mengalami keterlambatan.

Gangguan penerbangan terjadi pada 1, 2, 4 dan 6 Oktober 2026. Sementara pada 3 Oktober, operasional penerbangan berjalan normal tanpa pembatalan maupun keterlambatan yang disebabkan kabut asap.

Business Support Department Head Bandara Tjilik Riwut, Andi Wiguna membenarkan adanya penerbangan yang gagal beroperasi akibat kondisi jarak pandang yang rendah. Pada kondisi tertentu, jarak pandang bahkan turun hingga sekitar 150 meter.

“Dengan kondisi jarak pandang yang rendah, tentunya penerbangan memiliki risiko untuk tetap dilakukan. Jarak pandang yang aman untuk penerbangan berada di kisaran 1.500 hingga 2.000 meter,” kata Andi, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurutnya kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan keselamatan operasional penerbangan. Karena itu ketika jarak pandang berada jauh di bawah batas aman, penerbangan dapat ditunda atau dibatalkan.

Andi menyebut ada sejumlah penerbangan yang masih dapat berlangsung ketika jarak pandang berada di bawah 1.000 meter.

Kondisi ini bergantung pada kondisi operasional serta pengalaman dan keahlian pilot dalam menerbangkan pesawat.

Andi mengatakan meski terjadi gangguan penerbangan, Bandara Tjilik Riwut tetap beroperasi dengan melakukan langkah pemulihan atau recovery bagi para penumpang yang terdampak pembatalan maupun keterlambatan penerbangan.

"Gangguan akibat kabut asap ini menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai mengganggu konektivitas udara. Pihak bandara terus memantau kondisi jarak pandang dan keselamatan penerbangan sebelum memberikan izin operasional," pungkasnya. (MARINI/R)