PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiram sekitar 574 ribu liter air melalui operasi water bombing untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) wilayah Taman Nasional Tanjung Puting (TNT) dan wilayah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). 

PIC BNPB dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, M. Robbi Amri mengatakan operasi udara tersebut menjadi bagian dari dukungan BNPB kepada Satgas Karhutla Kobar dalam menangani kebakaran di lapangan.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Lintas Sektor Penanggulangan Karhutla di wilayah Kobar, Kamis, 8 Oktober 2026.

Robbi mengatakan Kalimantan Tengah merupakan salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla tahun 2026. Dalam pelaksanaannya, ia melakukan pendampingan lapangan sekaligus pengawasan wilayah penanganan karhutla di Kobar.

"Sejak 19 September, pos bayangan untuk mendukung operasi udara di Kalimantan Tengah sudah dilakukan," ujar Robbi.

Untuk wilayah Kobar, BNPB mengoperasikan satu unit helikopter water bombing yang memiliki kemampuan mengangkut sekitar 400 liter air dalam sekali angkut.

"Hingga saat ini total air yang sudah digunakan sekitar 574 ribu liter untuk membantu Satgas darat dalam pemadaman karhutla. Harapan kami operasi ini dapat terus dilakukan sampai tanggap darurat selesai," jelasnya.

Salah satu kendala dalam pelaksanaan operasi udara adalah kondisi visibility atau jarak pandang. Karena itu, setiap kali kondisi memungkinkan, kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan untuk melakukan operasi pemadaman dari udara.

"Kendalanya adalah visibility. Setiap ada visibility yang terbuka, kita manfaatkan sebaik mungkin untuk operasi udara," katanya.

Selain water bombing, BNPB juga mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan satu unit pesawat Cessna yang ditempatkan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun.

Pesawat tersebut akan diterbangkan ketika terdapat peluang terbentuknya awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian menggunakan garam dengan harapan dapat memicu hujan.

"Setiap ada peluang awan di langit, pesawat akan terbang untuk menebar garam dengan harapan menghasilkan hujan," ujarnya.

Robbi juga mengapresiasi penanganan karhutla yang dilakukan Satgas Kobar. Berdasarkan pantauan selama berada di wilayah tersebut, sinergitas antara pemerintah daerah, TNI-Polri dan instansi terkait dinilai terus berjalan.

Hal tersebut, terlihat dari konsistennya pengerahan personel untuk membantu penanganan karhutla di lapangan.

"Sinergitas antara pemerintah daerah, TNI-Polri dan instansi terkait cukup baik. Ini terlihat dari terus diturunkannya personel untuk membantu penanganan karhutla. Sinergitas ini supaya terus dijaga," tegasnya.

Meski demikian, Robbi mengingatkan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman. Aspek kajian risiko, tata kelola risiko dan identifikasi risiko juga perlu terus diperkuat sebagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan.

Ia mendorong seluruh pihak untuk memperkuat konsep pentahelix dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media dalam penanganan karhutla.

"Kajian risiko, tata kelola risiko dan identifikasi risiko perlu ditingkatkan. Pentahelix juga perlu dirangkul," katanya.

Robbi menambahkan, seluruh pihak juga harus mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan musim. Setelah musim kemarau berakhir, Kalteng akan memasuki musim hujan yang juga membutuhkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana lainnya.

Ia berharap rakor lintas sektor yang digelar Pemkab Kobar dapat menghasilkan langkah konkret dan memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam penanganan karhutla.

"Harapannya, rapat lintas sektor hari ini dapat memberikan hasil yang maksimal untuk penanganan karhutla," pungkasnya. (DANANG/R)