BORNEONEWS, Teheran – Iran dan Oman menyepakati jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz di tengah meningkatnya risiko keamanan dan gangguan lalu lintas kapal di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan informasi mengenai jalur tersebut nantinya akan disampaikan kepada badan internasional terkait.
Kesepakatan itu muncul ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah memukul aktivitas pelayaran melalui selat tersebut. Iran juga menyatakan jalur Hormuz belum sepenuhnya dibuka sampai sejumlah tuntutannya dipenuhi.
Risiko terhadap kapal juga meningkat.
Dalam periode 28 September hingga 5 Oktober, sedikitnya 12 insiden berupa serangan, upaya serangan maupun gangguan terhadap tanker dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu pekan sejak konflik dimulai.
Data Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Selasa, 6 Oktober 2026, terendah sejak 23 Juli.
Arus minyak mentah melalui selat itu juga turun menjadi sekitar 10,1 juta barel per hari atau sekitar 74 persen dari level sebelum perang.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena sebelum konflik menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Gangguan di kawasan tersebut turut meningkatkan biaya dan risiko pelayaran serta menjaga harga energi global tetap tinggi.
Kesepakatan Iran dan Oman mengenai jalur aman diharapkan dapat memberikan kepastian lebih besar bagi kapal yang masih melintasi kawasan tersebut, meski situasi keamanan tetap bergantung pada perkembangan konflik regional.
ANTARA









