BORNEONEWS, Jayapura - Aktivis 98 Papua berharap mahasiswa setempat tetap terus mengawal agenda reformasi dengan mengedepankan gerakan moral, intelektual, serta kepentingan publik dalam menyikapi berbagai persoalan di Bumi Cenderawasih.
Ketua Aktivis 98 Papua Frits Bernard Ramandey di Jayapura, Kamis, mengatakan mahasiswa memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mampu merumuskan gagasan dan menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat.
“Mahasiswa itu pertama menjadi pemikir, kedua menjadi perencana dan ketiga menjadi pelaksana,” katanya dalam bedah buku yang mengangkat perjalanan gerakan Aktivis 98 di Papua bertempat Kota Jayapura.
Menurut Frits, gerakan mahasiswa pada 1998 memiliki semangat perubahan yang dibangun secara mandiri tanpa kepentingan sponsor tertentu serta berupaya mengembalikan ruang kebebasan masyarakat.
"Untuk itu kami berharap dengan adanya bedah buku tersebut menjadi semangat pembelajaran bagi mahasiswa saat ini agar setiap gerakan yang dilakukan tetap berpijak pada kepentingan publik, menjaga etika serta tidak merugikan masyarakat maupun fasilitas pendidikan," ujar dia.
Sementara itu, penulis buku "Menjadi Papua" Paskalis Keagop mengatakan buku tersebut merekam perjalanan dan dinamika gerakan Aktivis 98, termasuk keterlibatan mahasiswa dalam mengawal berbagai isu perubahan di Papua.
"Kami berharap buku itu dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda untuk memahami perjalanan reformasi serta melihat lagi berbagai agenda perubahan yang masih perlu dikawal,"katanya.
Sementara itu, Dosen Pemerintahan Universitas Cenderawasih Gabriel Y Maniagasi mengatakan gerakan mahasiswa perlu terus dikembangkan melalui pendekatan intelektual dengan memperkuat kajian, argumentasi dan kemampuan membaca persoalan Papua secara utuh.
"Mahasiswa memiliki ruang strategis untuk mengawal kebijakan publik melalui kritik yang konstruktif serta menyampaikan aspirasi berdasarkan data dan kajian," katanya.
Gabriel berharap semangat gerakan 1998 tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus menjaga demokrasi dan mengawal agenda reformasi di Tanah Papua.
ANTARA









