SAMPIT –

‎BORNEONEWS, Sampit – Musim kemarau mulai berdampak terhadap aktivitas perikanan budidaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Penurunan debit air membuat ketinggian air di kolam tampung milik pembudidaya menyusut drastis, sehingga diperlukan penyesuaian dalam pemeliharaan ikan.

‎“Debit air sangat turun, biasanya ketinggian air di kolam tampung mencapai dua meter lebih, sekarang hanya 60–70 cm,” ujar kata Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Alam Salju Sejahtera Muhammad Aris, Jumat, 9 Oktober 2026.

‎Lebih lanjut ia mengungkapkan, kondisi tersebut mengharuskan pembudidaya lebih cermat dalam mengelola kolam, terutama dalam mengatur pemberian pakan ikan. Jumlah pakan harus dikurangi dan disesuaikan dengan kondisi ikan serta volume air yang tersedia.

‎Langkah itu penting untuk menjaga kualitas air kolam. Sebab, pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kondisi kolam berisiko meningkatkan kadar amonia yang dapat mengganggu kesehatan hingga mengancam kelangsungan hidup ikan.

‎“Ini penting untuk mencegah amonia berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dan kelangsungan hidup ikan,” jelasnya.

‎Aris berharap pemerintah dapat membantu pembudidaya menyediakan sumber air alternatif, salah satunya melalui bantuan pembangunan sumur bor.

‎Menurutnya, keberadaan sumur bor dapat menjadi solusi untuk menambah pasokan air ketika debit air menurun, sehingga kegiatan budidaya ikan tetap bisa berjalan meski menghadapi musim kemarau.

‎“Kami berharap ada bantuan pemerintah berupa sumur bor, sehingga ketika debit air menurun, kami lebih mudah menambah air ke kolam dan kegiatan budidaya tetap dapat berjalan,” harapnya. (DEVI/R)