SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Rokok elektrik atau vape bukan pilihan yang bebas risiko bagi kesehatan. Penggunaan dalam jangka panjang dapat memicu gangguan pernapasan hingga kerusakan paru-paru. Masyarakat pun diminta tidak menganggap vape lebih aman daripada rokok konvensional.

"Risikonya sangat serius. Dampaknya bisa akut atau cepat, maupun kronis. Dampak akut dapat menyebabkan kematian akibat gagal napas akut karena VAPI atau EVALI," kata Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P, Jumat, 9 Oktober 2026.

Peringatan tersebut sejalan dengan temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai berbagai potensi dampak kesehatan akibat penggunaan rokok elektrik. Risiko yang disoroti antara lain gangguan produksi insulin, peningkatan risiko diabetes, serta gangguan pada paru-paru dan pankreas.

Taufiqurrahman menjelaskan, dampak penggunaan rokok elektrik dapat muncul dalam waktu relatif singkat maupun berkembang secara bertahap. Dalam kondisi akut, cedera paru yang berkaitan dengan penggunaan vape dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat hingga gagal napas.

Sementara itu, paparan dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan paru dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Kanker paru serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menjadi dua kondisi yang perlu diwaspadai.

Ia menegaskan, rokok elektrik tetap memiliki risiko kesehatan serius sehingga tidak semestinya dipandang sebagai alternatif yang aman untuk menggantikan rokok biasa.

"Kami dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia telah menyampaikan dengan tegas bahwa rokok elektrik atau vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional," ujarnya.

Menurut Taufiqurrahman, tanda gangguan pernapasan pada pengguna vape dapat berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh durasi penggunaan, tingkat paparan, serta kerentanan masing-masing individu.

Gejala yang perlu diperhatikan meliputi batuk berkepanjangan yang sulit sembuh, bertambahnya produksi lendir atau dahak, hingga sesak napas yang semakin berat. Tubuh yang mudah lelah atau mengalami sesak ketika menjalankan aktivitas ringan juga tidak boleh diabaikan.

"Gejala awal seperti batuk yang sulit sembuh, peningkatan lendir atau dahak di saluran napas hingga sesak napas yang semakin memberat. Sesak atau mudah lelah saat melakukan aktivitas ringan juga perlu diwaspadai," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menghentikan penggunaan vape tidak selalu membuat kondisi paru-paru pulih sepenuhnya. Kemungkinan pemulihan bergantung pada tingkat kerusakan, lamanya paparan, dan kondisi setiap individu.

Pada sebagian kasus, kerusakan paru dapat bersifat permanen atau tidak dapat kembali seperti semula. Paparan berkepanjangan juga berpotensi menimbulkan jaringan parut pada paru-paru serta memicu kerusakan yang terus berkembang.

"Intinya, jika berhenti secepatnya akan lebih baik untuk mencegah progresivitas kerusakan yang lebih parah pada paru-paru," ucapnya.

Taufiqurrahman menilai edukasi mengenai bahaya rokok elektrik perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama kepada kalangan remaja. Sebab, dampak penggunaan vape tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat memengaruhi kondisi kesehatan dalam jangka panjang.

Ia mendorong masyarakat menghindari penggunaan rokok elektrik maupun rokok konvensional. Bagi mereka yang sudah menggunakan vape, berhenti sedini mungkin menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan kesehatan lebih lanjut.

"Langkah utama yaitu edukasi terus-menerus dan imbauan untuk menghindari vape atau rokok konvensional. Bagi yang sudah terpapar, berhenti secepatnya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)