JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Warga negara Indonesia di Arab Saudi diminta meningkatkan kewaspadaan dan membatasi perjalanan yang tidak penting menyusul meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman.

KBRI Riyadh juga mengingatkan WNI untuk menghindari wilayah yang berpotensi menjadi titik rawan serta tetap berada di lokasi aman.

“KBRI Riyadh mengimbau seluruh WNI agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan, menghindari daerah-daerah yang berpotensi menjadi titik kerawanan, dan membatasi perjalanan yang tidak bersifat esensial,” demikian imbauan KBRI Riyadh, Jumat, 9 Oktober 2026.

WNI juga diminta terus mengikuti arahan otoritas Arab Saudi serta memantau informasi resmi dari KBRI Riyadh.

Kewaspadaan juga berlaku bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara.

WNI diminta memastikan status penerbangan langsung kepada maskapai sebelum berangkat menuju bandara, mengingat eskalasi konflik telah mengganggu sejumlah penerbangan internasional ke Riyadh. Beberapa maskapai bahkan sempat menghentikan sementara penerbangan ke ibu kota Saudi setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid.

Ketegangan meningkat setelah Houthi melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah target di Arab Saudi.

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha termasuk fasilitas yang menjadi sasaran dalam beberapa hari terakhir. Serangan tersebut menewaskan sejumlah orang, melukai puluhan lainnya, dan merusak fasilitas serta pesawat.

Houthi juga mengklaim kembali menyerang Bandara Riyadh dengan rudal balistik pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Di tengah situasi tersebut, KBRI Riyadh meminta WNI tidak mengabaikan perubahan kondisi keamanan maupun informasi penerbangan.

Jika menghadapi keadaan darurat, WNI di Riyadh, Mekah, Madinah, dan Provinsi Timur dapat menghubungi layanan darurat 911. Untuk wilayah lain di Arab Saudi, layanan darurat dapat diakses melalui 998.

KBRI Riyadh juga menyediakan saluran hotline +966-56-917-3990 bagi WNI yang membutuhkan bantuan.

Eskalasi konflik Saudi-Houthi terjadi ketika pertempuran di Yaman kembali meningkat, termasuk di kawasan sekitar Selat Bab Al-Mandab yang memiliki posisi strategis bagi pelayaran dan perdagangan energi global.

ANTARA