JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) dikembangkan sebagai ruang bagi murid untuk mengasah bakat melalui pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics and Sport atau STEAMS.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan model tersebut diarahkan untuk memberi ruang lebih luas kepada anak yang memiliki bakat dan kemampuan khusus.

“Sekolah Nasional Terintegrasi ini merupakan ide besar dari Bapak Presiden Prabowo Subianto agar anak-anak yang memiliki bakat istimewa dapat kita berikan layanan pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuannya,” katanya, Jumat, 9 Oktober 2026.

Di SNT 7 Bogor, pembelajaran tidak hanya mengandalkan materi di kelas. Murid juga mengembangkan proyek yang menggabungkan berbagai mata pelajaran.

Mereka mendapat pendampingan untuk menyusun rencana masa depan, menetapkan target belajar yang spesifik dan terukur, serta mengembangkan kemampuan mengelola emosi.

Setiap murid juga difasilitasi laptop untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan keterampilan digital.

Salah satu proyek yang dikembangkan murid kelas X, Daffa Lingga Pratama bersama kelompoknya, adalah Smart Perimeter: Explore, Detect, Protect.

Proyek tersebut mengangkat persoalan keamanan di perbatasan laut Indonesia dan Singapura dengan menggabungkan Pendidikan Pancasila, Fisika, Informatika, dan coding.

Mereka membuat prototipe yang dapat mendeteksi objek yang mendekat kemudian memberikan peringatan melalui lampu dan bunyi.

“Tujuan kami membuat proyek ini untuk membantu di daerah perbatasan. Jadi jika ada objek yang mendekat, maka akan muncul suara dan lampunya akan menyala sebagai bentuk bahaya,” kata Daffa.

Murid lainnya, Danesh Chayra, memanfaatkan kegiatan coding, Koding dan Kecerdasan Artifisial serta ekstrakurikuler komputer untuk mendukung cita-citanya menjadi ahli keamanan siber.

Melalui pendekatan STEAMS, ia juga mengembangkan proyek pengolahan buah pala dengan memanfaatkan potensi lokal Bogor.

“Buat saya pendekatan ini membuat belajar menjadi lebih seru karena tidak terus menggunakan buku cetak. Banyak aktivitas di luar kelas, kita membuat proyek sekaligus meneliti hal-hal menarik,” ujarnya.

Mu’ti berharap model pembelajaran tersebut dapat membantu murid mengenali kekuatan diri sejak dini sekaligus mempersiapkan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.

ANTARA