BANJARMASIN –

BORNEONEWS, Kandangan – Lebih dari 13 ribu hektare lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, mulai diarahkan untuk dikelola lebih produktif dengan target hasil pertanian mencapai 8–10 ton per hektare.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan HSS, Lutfiana, mengatakan pengelolaan rawa lebak masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari pengaturan air, waktu tanam hingga penggunaan sarana produksi pertanian.

“Kita perlu selesaikan pengelolaannya dengan pengaturan air, pengaturan tanam, dan juga bisa dengan pengaturan Sarana Produksi Pertanian,” katanya di Kandangan, Jumat, 9 Oktober 2026.

Pola pertanian di sebagian kawasan rawa lebak juga masih dilakukan secara konvensional dan belum banyak memanfaatkan alat serta mesin pertanian.

Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan proyek percontohan di Kecamatan Daha Selatan melalui program “Si Tangguh Lebak HSS”.

Percontohan tersebut diharapkan dapat mendorong petani beralih dari pola tradisional menuju pengelolaan lahan yang lebih efisien.

Salah satu targetnya adalah meningkatkan produktivitas yang selama ini berada di kisaran empat hingga lima ton per hektare menjadi delapan hingga 10 ton per hektare.

Selain sektor pertanian, pengelolaan rawa lebak juga akan dikombinasikan dengan perikanan melalui konsep integrated farming.

Model tersebut telah diterapkan dalam proyek percontohan di Desa Banua Hanyar, Kecamatan Daha Selatan.

Pemerintah daerah juga menyoroti praktik illegal fishing yang masih ditemukan di kawasan rawa lebak.

Kelompok masyarakat pengawas akan kembali diperkuat bersama Polairud dan pihak terkait untuk menekan praktik tersebut.

Menurut Lutfiana, penanganan tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga perlu menyentuh persoalan ekonomi masyarakat yang terlibat.

“Dengan upaya ini kita ingin illegal fishing itu bisa zero atau nol, karena sebagaimana diketahui pula selama ini ada pelaku illegal fishing diamankan, sementara ekonomi keluarganya berada di bawah garis kemiskinan sehingga perlu dibantu penanganan dan edukasi bagi mereka,” ujarnya.

Pemkab HSS menilai optimalisasi lahan rawa lebak membutuhkan waktu panjang dan dukungan lintas sektor, baik melalui kebijakan, pendampingan petani maupun penyediaan sarana produksi.

ANTARA