BORNEONEWS, Sampit - Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya belum perlu ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional. Meski demikian, ia mengakui kebakaran dan kabut asap telah memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama petani, nelayan, dan buruh.
"Belum, ya kan. Ini kan soal kerja pun masih jalan ya. Cuma petani, nelayan memang sangat berdampak, sama buruh sangat berdampak," kata Agustiar Sabran, Jumat, 9 Oktober 2026.
Hal itu ia sampaikan saat rapat evaluasi penanganan bencana karhutla dan kekeringan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Agustiar menjelaskan, upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan. Pemerintah daerah juga berupaya memenuhi kebutuhan peralatan untuk mendukung pemadaman, terutama di wilayah yang terdampak kebakaran.
Terkait kebutuhan penanganan karhutla di Kotim, Agustiar menyebut pemerintah provinsi telah membicarakan sejumlah kebutuhan bersama Wakil Bupati Kotim, Irawati.
Peralatan yang dibutuhkan antara lain sumur bor, selang, dan mesin alkon. Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari dukungan yang dapat diberikan pemerintah provinsi untuk membantu penanganan di lapangan.
"Tadi kami bincang dengan Bu Ira, Bu Wakil Bupati, sumur bor, selang, alkon. Yang dibutuhkanlah, ini masih kekurangan-kekurangan yang kami bisa bantu," ujarnya.
Selain berdampak terhadap aktivitas, kabut asap akibat karhutla juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Agustiar mengatakan pemerintah terus memantau kondisi pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) melalui rumah sakit.
Berdasarkan pemantauan tersebut, ia menyebut terjadi peningkatan kasus ISPA sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan hari-hari biasa. Namun, ia mengatakan bahwa ISPA juga cenderung meningkat saat musim pancaroba.
"ISPA kami selalu mengecek rumah sakit. Tapi memang kenaikannya nggak begitu, ada kurang lebih 30 persen sampai 40 persen kenaikan ISPA, daripada hari-hari biasa-biasanya. Karena menyangkut ISPA ini saat musim pancaroba pun tinggi ISPA-nya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









