SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran memastikan aktivitas bongkar muat dan distribusi barang di Pelabuhan Pelindo Bagendang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tetap berjalan normal di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Tadi ingin memastikan, berjalan prima enggak, ini kelihatannya prima aja, sebagaimana mestinya, kan gitu. Walaupun situasi kondisi seperti kita ketahui semua, geopolitik, dalam negeri sendiri, Kalimantan Tengah, karhutla," kata Agustiar Sabran, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Hal itu ia sampaikan saat meninjau Pelabuhan Pelindo Bagendang bersama Wakil Bupati Kotim Irawati.

Agustiar mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan kepelabuhanan tetap berjalan lancar, terutama dalam mendukung distribusi pasokan kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Berdasarkan penjelasan pengelola pelabuhan, distribusi sembako dan barang lainnya masih berlangsung seperti biasa. Bahkan, aktivitas tersebut disebut menunjukkan peningkatan berdasarkan grafik operasional.

"Ini pintu gerbang ekonomi. Di mana ada pelabuhan, di situ pintu ekonomi. Tentunya tadi seperti dijabarkan tadi, lancar-lancar saja. Jadi enggak ada permasalahan-permasalahan, kami ingin memastikan itu," tandasnya.

General Manager Pelabuhan Bagendang dan Pelabuhan Sampit Akhmad Fajar menyampaikan bahwa aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bagendang tetap berjalan normal selama karhutla berlangsung.

Ia menyebut kelancaran operasional tersebut turut mendukung distribusi kebutuhan pokok ke sejumlah wilayah, terutama Kotim, Seruyan, dan Katingan, serta daerah lain di Kalteng.

"Alhamdulillah, selama adanya kondisi karhutla ini kita kondisi bongkar muatnya normal. Juga terutamanya distribusi untuk bahan sembako kepada masyarakat di kabupaten, khususnya Kotim, Seruyan, Katingan juga, Kalimantan Tengah umumnya," kata Akhmad Fajar.

Ia menjelaskan, volume bongkar muat di pelabuhan tersebut mencapai sekitar 6.000 TEUs setiap bulan. Aktivitas ini menjadi bagian dalam mendukung arus logistik dan memenuhi kebutuhan barang di wilayah Kalteng.

Dari sisi teknis, pengelola juga menyesuaikan kegiatan kapal dengan kondisi pasang surut air. Perubahan muka air tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga kelancaran proses sandar dan bongkar muat kapal.

"Pasang surut air kita bisa menyesuaikan kondisi yang ada ini. Ada pasang surut kurang lebih 6 jam ya, dengan draft kalau lagi pasang itu 4,8 sesuai SOP. Alhamdulillah kita bisa kondisikan dengan baik," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)