BORNEONEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memicu kabut asap dan mengancam kesehatan, tetapi juga berpotensi mengguncang perekonomian masyarakat Kota Palangka Raya.
Anggota DPRD Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan, menyoroti dampak karhutla terhadap aktivitas usaha dan pendapatan warga yang bergantung pada kegiatan ekonomi harian.
Menurut Hatir, ketika kabut asap memburuk, aktivitas masyarakat dapat terganggu. Warga cenderung mengurangi kegiatan di luar rumah, sementara pelaku usaha yang mengandalkan kunjungan pelanggan berisiko mengalami penurunan omzet.
"Dampak tersebut perlu menjadi perhatian karena tidak semua masyarakat memiliki kemampuan ekonomi untuk bertahan ketika pendapatan harian berkurang. Pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja informal, hingga pengemudi yang bergantung pada mobilitas masyarakat ikut merasakan imbasnya," kata Hatir, Minggu, 11 Oktober 2026.
Hatir menilai, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga perlu memperhitungkan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Semakin lama karhutla berlangsung, semakin besar pula risiko terganggunya aktivitas warga.
Ia mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karhutla agar dampaknya tidak meluas.
Respons cepat diperlukan untuk menekan kerugian masyarakat sekaligus menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan warga.
Menurutnya, koordinasi lintas instansi juga penting agar penanganan karhutla berjalan efektif, mulai dari pemantauan titik api, pengerahan personel, hingga penyediaan dukungan operasional di lapangan.
Hatir turut mengingatkan agar kelompok masyarakat berpenghasilan harian mendapat perhatian, terutama apabila kondisi asap memaksa mereka membatasi aktivitas untuk menjaga kesehatan.
"Kami berharap pemerintah tidak menunggu dampak ekonomi semakin berat sebelum mengambil langkah konkret. Pencegahan dan pemadaman yang efektif dinilai menjadi bagian penting untuk melindungi kesehatan sekaligus menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat," harapnya.
Hatir menegaskan, karhutla merupakan persoalan yang dampaknya melampaui kerusakan lingkungan.
Penanganan yang serius dan terkoordinasi diperlukan agar masyarakat Palangka Raya tidak terus menanggung beban kesehatan maupun tekanan ekonomi akibat bencana tersebut. (MARINI/R)









