BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memukul pendapatan pedagang di Pasar Blauran, Kota Palangka Raya.
Berdasarkan laporan pedagang yang masuk kepada Anggota DPRD Palangka Raya, Rusdiansyah aktivitas jual beli yang menurun drastis karena warga enggan keluar rumah membuat omzet pedagang tertekan, bahkan berisiko mengganggu perputaran modal usaha mereka.
"Kondisi ini menjadi perhatian, kami mendorong Pemerintah Kota (Pemko) mengambil langkah konkret untuk membantu pedagang bertahan sekaligus memulihkan keramaian Pasar Blauran yang terdampak kabut asap," katanya, Minggu, 11 Oktober 2026.
Menurutnya, pedagang kecil yang mengandalkan pemasukan harian menjadi kelompok rentan ketika jumlah pembeli menurun. J
ika kondisi ini berlangsung lama, kemampuan pedagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyediakan modal untuk kembali berjualan juga dapat terganggu.
Rusdiansyah meminta Pemko Palangka Raya mempertimbangkan bantuan modal usaha bagi pedagang terdampak. Dukungan tersebut dinilai penting agar mereka tetap bisa menjalankan usaha meskipun pendapatan sedang menurun.
Ia menilai, pemulihan aktivitas pasar perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Pasar Blauran harus kembali ramai agar transaksi meningkat dan perputaran ekonomi pedagang dapat berangsur pulih.
"Selain bantuan modal, kami mendorong pedagang memanfaatkan aplikasi digital untuk memperluas jangkauan penjualan. Promosi melalui media sosial, aplikasi pesan, dan platform perdagangan daring dapat menjadi alternatif untuk menjangkau konsumen yang mengurangi aktivitas di luar rumah," tambahnya.
Menurutnya, pemasaran digital dapat membantu pedagang tetap menawarkan barang kepada pelanggan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembeli yang datang langsung ke lapak. Namun, pedagang juga perlu mendapat pendampingan agar pemanfaatan teknologi tersebut berjalan efektif.
Ia berharap Pemko turut membantu mempromosikan Pasar Blauran dan produk pedagang melalui kanal informasi yang tersedia. Upaya ini diharapkan dapat menarik kembali minat masyarakat berbelanja sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.
Rusdiansyah menegaskan, dampak ekonomi akibat kabut asap tidak boleh diabaikan. Bantuan modal, promosi pasar, dan pemanfaatan pemasaran digital perlu didorong agar omzet pedagang dapat pulih dan usaha kecil tetap bertahan di tengah tekanan akibat karhutla. (MARINI/R)









