TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kesehatan masyarakat di Kabupaten Barito Timur.

Dashboard BPBD Damkar Barito Timur mencatat sebanyak 2.627 warga terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga Minggu, 11 Oktober 2026.

Pada saat yang sama, hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang sangat tinggi di sejumlah kecamatan.

Data dashboard mencatat Benua Lima mencapai nilai ISPU 1.801 pada 10 Oktober 2026. Patangkep Tutui dan Pematang Karau masing-masing mencatat 1.499, sedangkan Paku mencapai 1.227 dan Raren Batuah 952.

Angka tersebut menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara yang perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak kabut asap.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, menegaskan pentingnya penanganan karhutla sekaligus upaya melindungi masyarakat dari dampak asap.

“Selain penanganan kebakaran, kami juga perlu memperhatikan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Kami mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Selain berdampak terhadap kesehatan, kebakaran juga terus meluas. Hingga Minggu, 11 Oktober 2026, dashboard BPBD Damkar Barito Timur mencatat 749 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.053,1 hektare. Sistem pemantauan SiPongi juga merekam 1.514 titik panas atau hotspot yang menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di berbagai wilayah.

Parluhutan mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kebakaran dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi perluasan api.

“Karhutla di Barito Timur masih menjadi perhatian serius karena luas lahan yang terbakar sudah mencapai lebih dari seribu hektare. Kami terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran serta meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat,” imbuhnya.

Di tengah ancaman karhutla dan pencemaran udara, BPBD Damkar Barito Timur juga mencatat penyaluran air bersih kepada 1.907 kepala keluarga dengan total distribusi mencapai 176.600 liter. Pemenuhan kebutuhan air bersih tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan dampak bencana di daerah itu.

Dashboard yang sama turut mencatat 624 kejadian wabah penyakit, dengan 258 jiwa mengalami diare dan satu jiwa mengalami penyakit lainnya. Namun, data tersebut belum menjelaskan hubungan langsung antara kejadian penyakit tersebut dan karhutla.

Untuk menekan risiko kebakaran, Parluhutan meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.

“Penanganan karhutla membutuhkan dukungan semua pihak. Kami berharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api sehingga petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin sebelum kebakaran meluas,” pesannya.

Dengan meningkatnya luas lahan terbakar dan tingginya angka ISPU di sejumlah kecamatan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.

Upaya pemadaman, pencegahan sumber api dan perlindungan kesehatan harus berjalan beriringan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan karhutla di Barito Timur. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)