BORNEONEWS, Sampit – Hilirisasi hasil pertanian di Kalimantan Tengah akan diperkuat melalui keberadaan Rice Milling Plant (RMP) atau penggilingan padi modern di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi hingga 1.000 ton per bulan.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan pembangunan RMP Lampuyang ditargetkan selesai pada 2026 sehingga dapat mulai berproduksi tahun depan.
“Rencananya tahun ini selesai, lalu tahun depan sudah siap produksi,” kata Agustiar, dikutip Senin, 12 Oktober 2026.
Menurutnya, keberadaan penggilingan padi modern tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat hilirisasi sektor pertanian karena fasilitas pengolahan berada lebih dekat dengan sentra produksi.
Selama ini, sebagian hasil panen padi lokal masih dibawa ke luar daerah untuk diolah. Kondisi tersebut membuat nilai tambah dari hasil pertanian belum sepenuhnya dinikmati di Kalimantan Tengah.
“Sehingga ke depan hilirisasinya diharapkan bisa dioptimalkan di dalam daerah, sekaligus kita menjaga hulunya,” ujarnya.
RMP Lampuyang dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton per bulan.
Kapasitas tersebut diharapkan mampu menampung hasil panen petani di Kotawaringin Timur sekaligus melayani produksi dari kabupaten sekitar seperti Katingan dan Seruyan.
Kotim menjadi salah satu lokasi strategis karena merupakan daerah sentra produksi padi di Kalimantan Tengah.
Dengan fasilitas pengolahan yang berada lebih dekat dari lahan pertanian, biaya distribusi juga diharapkan dapat ditekan.
Selain memperkuat hilirisasi, RMP diharapkan membantu menjaga harga gabah petani dan memperluas nilai tambah dari hasil produksi.
Harga pembelian pemerintah untuk gabah saat ini ditetapkan minimal Rp6.500 per kilogram.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membuat petani tidak lagi hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah.
“RMP yang dibangun melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kalteng ini diharapkan membantu petani mengolah gabah menjadi beras bermutu tanpa harus menjual hasil panen dalam bentuk gabah dengan harga rendah,” katanya.
Menurut Irawati, semakin banyak hasil pertanian yang diolah di daerah sendiri, semakin besar pula nilai tambah yang dapat dinikmati petani dan masyarakat lokal.
Ia juga menilai potensi lahan pertanian di Kotim, khususnya Kecamatan Teluk Sampit, perlu terus dijaga dan dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pangan kabupaten maupun provinsi.
Dengan beroperasinya RMP Lampuyang, hasil panen petani diharapkan tidak lagi banyak keluar daerah dalam bentuk gabah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi di Kalimantan Tengah.









