BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Masyarakat yang membutuhkan layanan rumah oksigen, ambulans, dan bantuan terkait kesehatan di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dapat menghubungi nomor layanan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, Senin, 12 Oktober 2026 menjelaskan bahwa masyarakat dapat menghubungi BPBD melalui nomor 0822-5202-0231 atau 0812-5670-1080. Sementara untuk layanan melalui Dinkes Kobar, masyarakat dapat menghubungi 0822-5507-6882 atau 0853-4838-1763.
"Layanan tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dan bantuan kesehatan, rumah oksigen, maupun ambulans selama kondisi kabut asap berlangsung," jelas Jhonferi Sidabalok.
Jhonferi Sidabalok mengatakan ketersediaan layanan ini menjadi perhatian seiring tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kobar. Berdasarkan data pemantauan Dinkes hingga minggu epidemiologi ke-38 tahun 2026, jumlah kasus ISPA secara kumulatif mencapai sekitar 15.076 kasus.
"Tren peningkatan kasus paling menonjol terjadi pada akhir Juli hingga September. Pada minggu epidemiologi ke-28, tercatat 335 kasus ISPA. Angka tersebut meningkat menjadi 457 kasus pada M-29, kemudian 468 kasus pada M-30, hingga mencapai puncak 566 kasus pada M-31," jelas Jhonferi Sidabalok.
Setelah itu, lanjutnya, jumlah kasus mengalami fluktuasi. Pada M-35 tercatat 534 kasus, M-36 sebanyak 471 kasus, M-37 sebanyak 503 kasus, dan M-38 sebanyak 487 kasus.
"Walau turun sekitar 3,2 persen dibandingkan minggu sebelumnya, jumlah kasus pada M-38 masih 45,4 persen lebih tinggi dibandingkan M-28. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kasus ISPA masih berada pada tingkat relatif tinggi dan belum mengalami penurunan secara konsisten," jelas Jhonferi Sidabalok.
Jhonferi Sidabalok menjelaskan, peningkatan kasus ISPA tersebut secara waktu beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla selama musim kemarau. Paparan asap dan partikel hasil pembakaran berpotensi memicu gangguan pada saluran pernapasan.
"Berdasarkan distribusi kasus hingga M-38, Puskesmas Sungai Rangit mencatat kasus ISPA terbanyak dengan 2.703 kasus. Berikutnya, Puskesmas Kumai mencatat 1.470 kasus, Puskesmas Madurejo 1.411 kasus, Puskesmas Karang Mulya 1.152 kasus, dan Puskesmas Mendawai 1.059 kasus," jelas Jhonferi Sidabalok. (WAHYU KRIDA/y)









