JAKARTA –

Antam Perkuat Hilirisasi untuk Tingkatkan Nilai Tambah Mineral

BORNEONEWS, Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk atau Antam memperkuat pengembangan bisnis berbasis hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus menjaga pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

Langkah tersebut berjalan seiring dengan kinerja Antam pada semester I 2026 yang ditopang pertumbuhan bisnis nikel serta bauksit dan alumina.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan perusahaan terus mengoptimalkan kinerja operasional dan memperkuat portofolio bisnis pada komoditas emas, nikel, bauksit, dan alumina.

“Antam terus menjaga momentum pertumbuhan melalui optimalisasi kinerja operasional, peningkatan efisiensi, serta penguatan portofolio bisnis pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina,” kata Arini dalam keterangannya, Senin, 12 Oktober 2026.

Menurutnya, pengembangan hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus memperkuat fundamental perusahaan.

Antam juga tetap menerapkan pengelolaan biaya dan risiko secara disiplin untuk menjaga kinerja keuangan.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, kami optimistis Antam dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, Antam membukukan pendapatan Rp62,7 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perseroan tercatat Rp6,4 triliun atau melonjak 36 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ditopang bisnis nikel yang pendapatannya naik 32,4 persen serta bisnis bauksit dan alumina yang tumbuh 28,3 persen. Sementara pendapatan dari bisnis emas naik 1,4 persen.

BRI Danareksa Sekuritas menilai kenaikan harga jual rata-rata terutama pada komoditas nikel menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan laba.

Pada kuartal II 2026 harga jual rata-rata nikel tercatat 80 dolar AS per ton atau naik 18,7 persen secara kuartalan dan 44 persen secara tahunan.

Volume penjualan bijih nikel mencapai 3,4 juta ton.

Dari sisi profitabilitas, margin laba bersih bisnis nikel tercatat 54,5 persen, bauksit 24,1 persen dan emas 4,4 persen.

Sementara volume penjualan emas pada kuartal II 2026 mencapai 9,6 ton atau meningkat 13,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan proyeksi pendapatan Antam sepanjang 2026 sebesar Rp118,7 triliun dengan laba bersih Rp9,2 triliun.

ANTARA