BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menilai konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi semakin memperburuk arus logistik serta ketahanan energi dunia.
Menurut Bahlil, tekanan terhadap sektor energi global juga diperberat ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel.
“Ketegangan antara Iran, Amerika, Israel, dan sekarang masuk Houthi juga masuk ke Arab Saudi, ini akan semakin memperparah arus logistik dan ketahanan energi dunia,” kata Bahlil di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.
Bahlil yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan belum ada kepastian kapan ketegangan geopolitik tersebut akan berakhir.
Kondisi itu membuat Indonesia harus terus menjaga ketersediaan pasokan energi terutama bahan bakar minyak melalui berbagai sumber.
Ia mengatakan pemerintah melakukan komunikasi dan lobi dengan sejumlah negara untuk memastikan pasokan minyak tetap tersedia.
“Makanya Menteri ESDM nggak bisa tidur terlalu panjang karena lobi minyak di mana-mana. Lobi minyak di Afrika,” ujarnya.
Menurut Bahlil, prinsip pemerintah saat ini adalah mencari sumber minyak yang paling memungkinkan selama efisien dan tidak melanggar ketentuan.
“Selama itu efisien untuk kebaikan negara dan tidak melanggar aturan maka itu akan menjadi prioritas negara,” katanya.
Pemerintah menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan dan logistik akibat konflik di Timur Tengah.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat dalam beberapa waktu terakhir dengan serangan terhadap sejumlah fasilitas dan bandara di Arab Saudi. Houthi juga sempat mengklaim serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco.
Arab Saudi di sisi lain menegaskan tetap berkomitmen menjaga pasokan energi agar tidak terputus meski situasi keamanan kawasan memburuk.
Bahlil menilai perkembangan tersebut perlu terus diantisipasi karena gangguan pada jalur logistik energi global berpotensi memengaruhi negara-negara pengimpor termasuk Indonesia.
ANTARA









