BORNEONEWS, Palangka Raya – Universitas Palangka Raya membuka rumah oksigen gratis untuk membantu mahasiswa dan masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Fasilitas tersebut diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa UPR dan didukung pihak kampus sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan selama kondisi udara memburuk.
Rektor UPR Prof Bhayu Rhama mengatakan rumah oksigen diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa dan masyarakat yang terpapar asap.
“Kita berharap rumah oksigen dari BEM UPR ini bisa memberikan dampak langsung bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat yang terpapar kabut asap yang sudah lama melanda Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya,” kata Bhayu di Palangka Raya, Selasa, 13 Oktober 2026.
Selain membuka rumah oksigen, UPR juga menerapkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ untuk mengurangi risiko paparan asap selama kegiatan akademik.
“Langkah konkret untuk melindungi mahasiswa di tengah kabut asap sudah kita lakukan dengan melaksanakan PJJ. Kita juga mendirikan rumah oksigen gratis ini sebagai salah satu bentuk perlindungan kepada mereka,” ujarnya.
Kampus juga menyiapkan dukungan logistik agar layanan rumah oksigen dapat terus berjalan selama masih dibutuhkan.
Bhayu menilai penanganan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar kabut asap juga perlu menjadi perhatian.
Sementara itu, Presiden BEM UPR Jales Veva Jaya Mahe mengatakan rumah oksigen dibuka setelah muncul berbagai keluhan mengenai gangguan pernapasan di tengah kabut asap.
“Konkretnya ini mampu membantu mahasiswa, sangat bermanfaat juga bagi masyarakat terdampak. Banyak keluh kesah terkait pernapasan akibat karhutla,” katanya.
UPR berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal selama kondisi kabut asap masih memengaruhi aktivitas mahasiswa dan masyarakat.









