SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), lumpuh total selama Oktober 2026 akibat jarak pandang yang terus menurun karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga Selasa, 13 Oktober 2026, belum ada pesawat yang berhasil mendarat sejak penerbangan terakhir pada 22 September lalu.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Raihansyah mengatakan, penutupan sementara penerbangan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan. Jarak pandang pada pagi hari berkisar 500 hingga 800 meter, kemudian terus menurun pada siang hingga sore hari.

"Untuk penerbangan Bandara H Asan Sampit ini close total, tutup total selama bulan Oktober ini. Bulan Oktober ini dikarenakan cuaca dan jarak pandang kalau kita memerhatikan data dari BMKG bahwa jarak pandang di pagi hari itu bisa sampai 500 sampai 800 meter. Begitu siang hari dia akan turun terus sampai 300 sampai bahkan sore hari bisa sampai di bawah 100," kata Raihansyah, Selasa, 13 Oktober 2026.

Kondisi tersebut belum memenuhi standar keselamatan untuk penerbangan. Jarak pandang yang dinilai aman berada pada kisaran 2.000 meter atau lebih, sedangkan kondisi di Sampit masih jauh di bawah batas tersebut.

Karena itu, penerbangan dihentikan sementara hingga kondisi cuaca dan jarak pandang kembali memungkinkan. Belum ada kepastian kapan aktivitas penerbangan dapat beroperasi normal kembali.

Raihansyah menjelaskan, lumpuhnya bandara tersebut tidak lepas dari dampak kabut asap. Meskipun kebakaran di wilayah perkotaan mulai berkurang, asap dari lokasi karhutla wilayah lain diduga masih terbawa angin hingga ke Sampit. Kondisi tersebut terus mengganggu jarak pandang di sekitar bandara.

Terhentinya penerbangan turut berdampak terhadap aktivitas ekonomi, terutama bagi pelaku usaha dan investor yang membutuhkan perjalanan cepat ke luar daerah.

Raihansyah menyebut, masyarakat yang biasanya menggunakan pesawat kini harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan hingga sembilan jam menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mengakses penerbangan. Karena bandara terdekat seperti Bandara Iskandar Pangkalan Bun dan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya pun mengalami hal yang sama seperti di Sampit. 

Kondisi ini menjadi kendala bagi kalangan pebisnis yang memiliki mobilitas tinggi. Selain membutuhkan waktu lebih lama, perjalanan melalui jalur darat juga membuat perjalanan menjadi kurang praktis dibandingkan penerbangan langsung dari Sampit.

Di sisi lain, Dishub Kotim terus berkomunikasi dengan pihak maskapai mengenai perkembangan kondisi cuaca. Maskapai disebut masih menunggu hingga jarak pandang kembali memenuhi persyaratan penerbangan.

Raihansyah berharap kondisi tersebut segera membaik sehingga penerbangan dapat kembali beroperasi. Ia juga mengkhawatirkan penghentian penerbangan yang terlalu lama berpotensi menimbulkan kerugian bagi maskapai dan memerlukan upaya atau lobi untuk memastikan layanan penerbangan kembali berjalan.

Berdasarkan data Bandara H Asan Sampit, pesawat terakhir tercatat berhasil mendarat pada 22 September 2026. Setelah itu, keterbatasan jarak pandang menyebabkan pesawat tidak dapat mendarat, termasuk sepanjang Oktober hingga Selasa, 13 Oktober 2026.

Bandara H Asan Sampit melayani sejumlah rute penerbangan, yakni Super Air Jet untuk rute Jakarta, Wings Air rute Surabaya, serta NAM Air rute Semarang dan Surabaya.

Sementara itu, NAM Air secara resmi membatalkan penerbangan hingga 15 Oktober 2026. Maskapai akan mengevaluasi kondisi cuaca setelah tanggal tersebut untuk menentukan apakah pembatalan perlu diperpanjang.

Jika jarak pandang masih belum memenuhi persyaratan keselamatan, pengajuan pembatalan penerbangan lanjutan dapat dilakukan.

Raihansyah menegaskan, penghentian sementara tersebut hanya berlaku pada aktivitas penerbangan. Operasional bandara dan aktivitas pegawai tetap berlangsung seperti biasa. (DEWI PATMALASARI/j)