SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan kendala pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kandan-Camba, Kecamatan Kota Besi, serta Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau.

Petugas masih menghadapi sulitnya mengendalikan api, terutama karena kebakaran belum berhasil dipadamkan dan keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi.

"Jadi fokus kita hari ini, yang pertama di Kandan-Camba Kecamatan Kota Besi. Yang kedua di Mentaya Seberang, Seranau, yang dilakukan oleh teman-teman Manggala Agni, BPBD, kecamatan, kelurahan, MPA, TSA yang ada di Mentaya Seberang," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Imam Subekti, Rabu, 14 Oktober 2026.

Penanganan di kedua wilayah tersebut menjadi prioritas seiring meningkatnya jumlah titik panas di Kotim. Berdasarkan pemantauan BPBD, hotspot tercatat mencapai 1.211 titik, naik dibandingkan sehari sebelumnya yang berjumlah 732 titik.

Sebaran titik panas didominasi wilayah selatan Kotim, termasuk Kecamatan Seranau. Sementara itu, Kecamatan Kota Besi juga menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penanganan intensif.

Untuk memperkuat upaya pemadaman, BPBD mengerahkan 22 regu pada pagi hari dan menyiagakan delapan regu untuk penanganan malam hari. Petugas bekerja bergantian agar upaya pengendalian kebakaran dapat terus berlangsung.

Di kawasan Kandan-Camba, petugas menghadapi kebakaran yang sulit dipadamkan meskipun upaya penanganan telah dilakukan sejak pagi hingga malam hari.

Imam mengatakan, empat regu yang bertugas pada malam sebelumnya baru menyelesaikan tugas pada Rabu pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Untuk melanjutkan penanganan, BPBD kembali mengirimkan tiga regu ke lokasi.

"Tadi malam ada empat regu yang baru selesai pagi tadi, 07.30 mereka balik. Siang ini kita kirim lagi tiga regu dan nanti akan dipimpin Ibu Wabup dan Pak Dandim yang ada di lokasi," tambahnya.

Pergantian regu dilakukan agar pemadaman dapat terus dilanjutkan di tengah kondisi kebakaran yang belum terkendali sepenuhnya. Dukungan personel di lapangan juga sangat penting untuk mempercepat penanganan di wilayah tersebut.

Sementara itu, upaya pemadaman di Mentaya Seberang menghadapi persoalan berbeda. Petugas kesulitan memperoleh sumber air yang memadai untuk menunjang pemadaman api.

Pemanfaatan air Sungai Mentaya bergantung pada kondisi pasang surut sungai. Petugas harus menunggu air sungai naik, kemudian membendungnya agar dapat digunakan untuk mendukung proses pemadaman.

"Kendala kita untuk di Mentaya Seberang itu adalah sumber air. Karena kita harus menunggu pasang dari Sungai Mentaya, kita bendung, baru nanti kita bisa memadamkan," ucap Imam.

Keterbatasan air tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Karena itu, koordinasi antara BPBD, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta unsur masyarakat terus dilakukan untuk mendukung penanganan karhutla.

Berdasarkan data BPBD Kotim per 13 Oktober 2026, total lahan yang terbakar di Kotim mencapai 2.153 hektare dalam 1.433 kejadian.

Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 897 hektare atau sekitar 41,66 persen dari total lahan terbakar.

Di urutan berikutnya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatat luasan lahan terbakar mencapai 457 hektare, sedangkan Kecamatan Baamang mencapai 420 hektare.

Pada periode yang sama, akumulasi titik panas di Kotim tercatat sebanyak 45.638 titik. Angka tersebut menggambarkan luasnya wilayah yang harus dipantau dan ditangani dalam upaya pengendalian karhutla.

"Hingga saat ini, upaya pemadaman masih terus berlangsung di sejumlah lokasi. Kami juga memperoleh dukungan sarana dan prasarana pemadaman dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk memperkuat penanganan kebakaran di lapangan," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)