JEPARA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Sebanyak 108 presenter berpartisipasi dalam The 2nd Palangka Raya International Conference on Education (PRICE) 2026 yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (UPR) pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Forum internasional ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga melahirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.

Dekan FKIP UPR, Dr. Rinto Alexandro, S.E., M.M., menegaskan pentingnya perguruan tinggi membangun sinergi dengan institusi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil penelitian dan pemikiran akademisi mampu memberikan dampak nyata, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional dan internasional.

“Tuntutan sekarang adalah bagaimana kehadiran perguruan tinggi bisa berdampak secara nasional maupun internasional. Kita mencoba bersinergi untuk memberi solusi atas tantangan yang ada, seperti isu kebakaran yang saat ini tengah kita hadapi bersama,” ungkap Rinto saat diwawancarai di sela kegiatan.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi.

Karena itu, forum internasional seperti PRICE menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai perspektif akademik guna mencari pendekatan yang relevan terhadap persoalan pembangunan.

Isu karhutla menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam kegiatan tersebut. Persoalan ini membutuhkan penanganan lintas sektor, sehingga kontribusi akademisi melalui kajian ilmiah dan inovasi diharapkan dapat memperkaya upaya penanganan yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia PRICE 2026, DR Akhmad Fauzan, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa konferensi tersebut menghadirkan pembicara utama dari tiga negara, yakni Australia, Filipina, dan Turki.

Kehadiran akademisi internasional tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk bertukar pengetahuan dan memperluas perspektif mengenai perkembangan pendidikan di era digital.

Selain pembicara utama, konferensi ini juga menghadirkan pembicara undangan dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Universitas Palangka Raya, Universitas Jambi, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Tanjungpura.

Fauzan menyebutkan, dari total sekitar 108 presenter, sebanyak 54 peserta dijadwalkan mempresentasikan kajiannya secara langsung atau onsite, sedangkan 54 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring atau online.

“Total terdapat sekitar 108 presenter yang berpartisipasi. Sebanyak 54 peserta mempresentasikan kajiannya secara langsung di lokasi (onsite), dan 54 peserta lainnya mengikuti secara online. Para peserta nantinya akan terbagi dalam ruang-ruang diskusi paralel,” jelasnya.

Melalui pembagian ruang diskusi paralel, para presenter akan memperoleh kesempatan untuk memaparkan hasil kajian dan mendiskusikan berbagai isu sesuai bidang penelitian masing-masing. Forum ini juga menjadi sarana untuk memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi penelitian ant perguruan tinggi.

PRICE 2026 mengusung tema Transforming Impactful Higher Education in the Digital Era for Global Society.

Pembahasan konferensi mencakup kebijakan dan inovasi kurikulum, strategi pembelajaran, kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam pendidikan, pendidikan STEM, hingga pendidikan inklusif serta pengembangan karakter.

Konferensi tersebut diharapkan memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Sinergi lintas kampus dan negara menjadi salah satu upaya untuk mendorong hasil penelitian agar tidak berhenti pada diskusi akademik, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan di lapangan.(TESTI PRISCILLA)