PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Rencana menjadikan kawasan Terminal W.A. Gara sebagai lokasi balapan menuai penolakan dari sejumlah warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.

Warga menyampaikan kekhawatiran terkait kebisingan, gangguan ketenangan lingkungan, hambatan akses permukiman, hingga risiko keselamatan yang mengancam, terutama bagi anak-anak dan pengguna jalan lainnya.

Listia Marwah (29), yang tinggal tepat di belakang terminal, menyampaikan keberatannya jika kegiatan balapan berlangsung hingga ke malam hari.

Menurutnya, suara bising kendaraan akan sangat mengganggu waktu istirahat warga. Selain itu, ia khawatir akses jalan keluar masuk permukiman akan terhambat, memaksa warga memutar melalui jalur yang lebih jauh.

Risiko keselamatan juga menjadi alasan utama keberatan warga. Listia mengaku warga sekitar sudah beberapa kali mengalami situasi nyaris tertabrak oleh kendaraan yang melaju kencang di kawasan tersebut.

Keselamatan anak-anak yang bermain di lingkungan permukiman menjadi perhatian utamanya. "Lebih baik mereka ke sirkuit saja. Ini terminal, bukan tempat balapan," tegasnya, Rabu, 14 Oktober 2026.

Keluhan serupa disampaikan Indah Hidayah (19). Ia tidak hanya terganggu suara knalpot bising, tetapi juga merasa tidak aman melintasi jalan tersebut pada malam hari.

Ia menceritakan pernah merasa terkepung oleh aksi pengendara, bahkan mengalami pelecehan verbal.

"Sebagai perempuan yang pulang bekerja malam, saya berharap keselamatan dan kenyamanan warga menjadi pertimbangan utama," ujarnya.

Masitah B Duris (42), warga lainnya, juga menyampaikan keberatan. Aktivitas balapan membuatnya mudah terkejut dan merasa tidak tenang di rumah.

Ia berharap kegiatan otomotif dilaksanakan di lokasi yang memang diperuntukkan untuk hal tersebut dan tidak mengganggu warga yang tinggal di sekitarnya.

Menanggapi gelombang keberatan warga, Kasatlantas Polresta Palangka Raya, Kompol Hermanto, menjelaskan bahwa rencana penggunaan Terminal W.A. Gara masih sebatas usulan dan belum diputuskan.

Pemilihan lokasi wajib mempertimbangkan aspek keselamatan sekaligus respons masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Hermanto juga menyebut alternatif lain, termasuk Sirkuit Sabaru yang dapat dipertimbangkan. Meski ada kendala terkait biaya perlengkapan keselamatan di sirkuit, aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama.

Pihaknya terbuka mencari solusi terbaik dan akan mempertimbangkan lokasi lain jika warga tetap keberatan. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait mengkaji rencana ini secara matang.

"Keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat harus menjadi dasar utama penentuan lokasi kegiatan, sehingga kegiatan positif tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan hak-hak warga yang tinggal di sekitar kawasan," pungkasnya. (PATHUR/R)