PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD, SD, dan SMP pada 15–17 Oktober 2026 karena kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan masih berada pada kategori berbahaya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Aprae Vico Ranan mengatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara pada 11–14 Oktober 2026.

“Tujuannya adalah untuk melindungi kesehatan siswa di tengah kualitas udara yang masih berada pada kategori berbahaya,” kata Vico, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurutnya, pembelajaran tatap muka sementara dibatasi untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap peserta didik.

“Perpanjangan PJJ ditetapkan setelah hasil pemantauan ISPU pada 11–14 Oktober 2026 menunjukkan kualitas udara di wilayah setempat masih dalam kategori berbahaya,” ujarnya.

Berdasarkan data pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup yang diberitakan pada Selasa, 13 Oktober 2026, ISPU di stasiun Palangka Raya, Jekan Raya, sempat tercatat mencapai 4.055 pada pukul 13.17 WIB dengan PM2.5 sebagai parameter pencemar utama.

Kondisi kabut asap juga menyebabkan jarak pandang di sejumlah ruas jalan menurun. Di beberapa titik Jalan Mahir Mahar dan jalur Trans Kalimantan, jarak pandang pada Selasa dilaporkan hanya sekitar 50–100 meter.

Disdik meminta siswa mengurangi aktivitas di luar rumah, memperbanyak minum air putih, menjaga pola makan, dan menggunakan masker yang sesuai apabila harus keluar rumah.

Orang tua juga diminta mengawasi kegiatan anak selama mengikuti pembelajaran dari rumah.

Vico mengatakan kebijakan tersebut akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara.

“Langkah penyesuaian selanjutnya akan mempertimbangkan hasil pemantauan lingkungan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik,” katanya.

Salah seorang orang tua siswa SD, Dika, menyambut baik perpanjangan PJJ karena dinilai dapat mengurangi paparan asap terhadap anak.

Namun, menurutnya, pembelajaran dari rumah juga memiliki sejumlah kendala, seperti jaringan internet, keterbatasan perangkat, dan kejenuhan anak karena lebih sedikit berinteraksi dengan teman.

“Saya berharap karhutla dan kabut asap segera berakhir sehingga kegiatan belajar dapat kembali normal. Anak-anak pun diharapkan bisa kembali belajar di sekolah, bermain, dan berinteraksi dengan teman dalam kondisi yang aman dan nyaman,” ujarnya.