BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah melonjak sepanjang tahun terakhir. Hingga Juli 2026, jumlah investor tercatat mencapai 264.721 orang atau bertambah 146.110 investor dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala OJK Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz mengatakan jumlah single investor identification atau SID sebelumnya tercatat 118.611 investor.
Kenaikan tersebut setara 123,18 persen secara tahunan.
“Capaian ini salah satunya didukung melalui pelaksanaan rangkaian road to sekolah pasar modal terpadu sinergi OJK Kalimantan Tengah dengan Bursa Efek Indonesia, perusahaan sekuritas dan pemerintah daerah,” kata Primandanu, Rabu, 14 Oktober 2026.
Pertumbuhan jumlah investor juga diikuti kenaikan nilai transaksi saham.
Pada Juli 2026, transaksi saham di Kalteng mencapai Rp1,16 triliun, naik Rp456,10 miliar atau 64,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp708,35 miliar.
Selain investasi saham, pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan usaha juga mulai terlihat melalui skema Securities Crowdfunding atau SCF.
Di Palangka Raya, terdapat pendanaan sebesar Rp7 miliar melalui skema tersebut untuk tambahan modal kerja dan belanja modal pada sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan.
Menurut Primandanu, SCF dapat menjadi alternatif pendanaan bagi UMKM dan perusahaan rintisan yang belum memenuhi persyaratan memperoleh pembiayaan melalui pasar modal konvensional maupun perbankan.
“Meskipun jumlah penerbit efek masih terbatas, capaian tersebut menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap potensi usaha lokal sekaligus memperluas akses pembiayaan di luar skema kredit perbankan,” ujarnya.
Pertumbuhan juga terjadi pada produk reksa dana. Nilai penjualan produk melalui Agen Penjual Efek Reksa Dana meningkat menjadi Rp79,15 miliar. Angka tersebut naik Rp67,21 miliar atau 562,67 persen secara tahunan dibandingkan sebelumnya Rp19,4 miliar.
Perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas pasar modal di Kalteng tidak hanya ditopang bertambahnya jumlah investor saham, tetapi juga mulai meluas ke instrumen pembiayaan usaha dan investasi lainnya.









