BORNEONEWS, Jakarta – Pecahan kaca menjadi salah satu bagian dari peristiwa yang menambah trauma seorang ibu dan anak balitanya. Amarah sang suami, yang disebut muncul setelah kalah bermain judi online, berujung pada dugaan kekerasan dalam rumah tangga.
Peristiwa itu mencuat setelah sebuah video beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang pria terlihat mengamuk hingga memecahkan cermin lemari. Pecahan kaca kemudian mengenai anaknya yang masih balita.
Istri pria tersebut dalam unggahannya juga menceritakan persoalan judi slot yang dialami sang suami.
Kasus itu kemudian mendapat perhatian Anggota Komisi III DPR RI Abdullah. Menurutnya, penanganan tidak boleh berhenti pada proses hukum terhadap pelaku.
Ibu dan anak yang menjadi korban, kata Abdullah, juga membutuhkan perlindungan dan pendampingan agar dapat pulih dari trauma.
“Jadi, fokusnya bukan hanya menangani pelaku KDRT karena persoalan judi slot, tetapi juga melindungi ibu dan anaknya agar bisa pulih dari trauma dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman,” kata Abdullah di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia meminta kepolisian memastikan kondisi psikologis ibu dan anak tersebut mendapat perhatian.
Pemulihan dinilai penting karena dampak kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu berhenti ketika kejadian berakhir. Rasa takut dan tekanan dapat tetap dirasakan korban setelahnya.
Perkara tersebut juga kembali memperlihatkan dampak judi online yang dapat merembet jauh ke dalam kehidupan keluarga.
Abdullah menyoroti kondisi Jawa Barat yang menurut data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan termasuk daerah dengan nilai transaksi judi online tinggi dan berada dalam lima besar nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, persoalan judi online tidak hanya berkaitan dengan kerugian finansial.
Dampaknya juga dapat menjalar pada hubungan keluarga, keselamatan pasangan, dan kondisi psikologis anak.
Karena itu, Abdullah meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemangku kepentingan terkait tidak membiarkan masyarakat menghadapi persoalan tersebut sendiri.
“Lakukan mitigasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Setelah video dugaan KDRT tersebut viral, ibu yang mengunggah kejadian itu juga mengaku mendapat tekanan dari sejumlah pihak.
Ia disebut menerima komentar yang menyudutkan dan menghakiminya, bahkan ada permintaan agar video tersebut dihapus.
Situasi itu membuat posisi korban semakin rentan karena selain menghadapi dugaan kekerasan di dalam rumah tangga, ia juga harus menghadapi tekanan setelah peristiwa tersebut diketahui publik.
Abdullah menilai perlindungan korban harus menjadi bagian penting dalam penanganan perkara, terutama agar ibu dan anak tidak kembali mengalami tekanan yang dapat memperburuk kondisi psikologis mereka.
Kasus tersebut kini menjadi pengingat bahwa persoalan judi online dapat membawa dampak yang jauh melampaui kerugian uang ketika emosi, kekerasan, dan keselamatan anggota keluarga ikut menjadi taruhannya.
ANTARA









